Belati

Belati

Wahai jiwa-jiwa yang murka
tengoklah cermin sembunyi-sembunyi
karena wajahmu tak lagi ranum merona
kini sekelilingmu kerontang dan sepi

dengarlah celotehanmu sesekali
karena caci maki luap tanpa batas
sesak di pendengaran tanpa intuisi
merubah hati miris teriris

wahai jiwa-jiwa yang tenang
teguhlah pada kesucian nuansa
banyak sudah karenamu meradang
ujung lidahmu mengaburkan realita

jedalah berlagak bak raja
memancang tangan kukuh dipinggang
Tengok sejenak kebelakang
Siapa engkau?, siapa mereka?

Mereka itu, denganmu tak beda 
berhentilah menabuh genderang perang
meski engkau gajah, mereka semut sekarang
Tapi... Esok hari mereka jadi belati

*Uaksena di koridor tak berpenghuni

Pertanda Ajal

Featured

Perut sudah berbunyi

tapi takberitama seperti muzik

Suaranya lebih mirip genderang perang

Terdengar seperti sebuah isyarat

Bagiaikan pertanda bencana

kaki dan tangan gemetar

seluruh tubuh berguncang

Keringat dingin mengucur

Meski Ini bukan penanda meriang

Bola mata mulai redup tanpa cahaya

Dan

Nafas mulai melambat tersengal

Apa yang terjadi yaa Allah yang Maha menentukan segala sesuatu

Inikah pertanda ajal?

Bukan.

Ini pertanda waktu makan siang tiba.

Mari nikmati ala kadarnya.

Situagintung 2017.

di hela nafas terakhir

sorot mata itu memudar
kilatan cahaya mulai meredup
tak ada lagi tatapan tajam
pandangan menerawang tanpa batas
seperti langkah tegap yang melemah
gontai diseret tak tentu arah
badan lunglai hingga derapnya tiada

apa yang sedang berlaku
Adakah bathinmu buta
hingga hidup bagaikan gulita
sungguhkah dalam hidupmu
tak ada lagi secuil harapan
hingga rela menutup mata batinmu
lalu terperosok pada kesedihan mendalam

adakah bathinmu lumpuh
hingga tak ada arah melangkah
menelusur jalan tanpa marka
dimana bumi seperti tak kau pijak
benarkah hidupmu tak bertujuan
hingga rela berhenti pada deraan nasib
lalu menyesalinya tanpa akhir

jika saja cinta masih bersemayam pada qalbu
dan rindu bertahta indah dalam ruh
disana tersimpan asa
hingga di hela nafas terakhir

 

 

 

 

 

 

halilintar berwarna Nila

Jangan kira ini suara halilintar
yang menggema memekakkan gendang telinga
suara ini bukan suara petir
yang membahana sepenuh angkasa raya
kilatannya mengukir indah namamu

inilah suara hatiku
tentang cinta yang kesumat dalam
nun jauh di lubuk hati
menggema melebihi suara-suara supersonic
tentang rindu yang tak kunjung usai
meski jiwa telah merengkuhnya rapat

Khusyu di Dua Raka'at

embun jangan biarkan terusik
arwahku masih gerah semalam
menidurkan angkara murka dalam hati

tenanglah engkau mentari pagi
jangan sinarmu meluap menjelma durjana
cukupkan waktu antara fajar dan shubuh

biarkan raga mabuk bersama cintanya
khusyu pada dua rakaat
senilai langit dan bumi