Sepertiga Malam

sepertiga malam menawar syahdu
pada hening kugadai hidup
mengharap ingatan ditelan sunyi
bersimpuh raga diperut bumi

sepertiga malam jangan berlalu segera
sejenak kuingin mewujudkan sebait firman kalam
mengejar amal selingkar biji-biji tasbih
meratap pada ujung kelamnya dosa

biarlah semua terbuai syurga dalam mimpi
kutak butuh lagi dalam kemulku
“kum faa ansir” telah kusambut segera
sebelum fajar menjemput shubuh

Allahu Akbar… Walillahil Hamd
kurapatkan sujud pada Tahajjudku
kurangkum do’a dalam aliran darah dan nafasku
berharap Ridho dan Ampunan-Mu

Kepada Sang Galoh… jangan Berhenti Kawan !!!!

berderet syair memenuhi lembaran kertas tak bergaris
berkelok-kelok tulisan terukir pada setiap lembarannya
tak juga susah membacanya dengan mata memincing
engkau bilang “itulah inspirasiku!!!”

ah…!!! betapa mudahnya ukiran itu bersajak
tentang jiwa-jiwa yang meneriakkan kebenaran
pada noda hitam penghias cakrawala hidup
dengan larik-larik sajakmulah engkau merubahnya

“seperti inilah aku memaksa keadaan” ucapmu tak lirih
memaksa nalar merenung pada hati yang terbalut nafsu
betul-betul meruak pada setiap barisan kalimatmu
entah pada diriku atau pada siapa saja engkau maksudkan

wahai sang pujangga
jangan pernah berhenti meneriakkan inginmu
tentang bumi yang telah renta tempatmu berpijak
bahwa engkau sejatinya adalah pahlawan

Terkekeh-kekeh melihat baitmu
ditangisi oleh mereka-mereka yang tak juga mahfum
lalu tetaplah badanmu tegak begitu tegar
menggempur hati mereka dengan kata-kata saktimu

teruskan kawan…
kutetap ada bersamamu
bahwa sang Galoh
berirama pada syair dan lagunya

betulkah aku sedang rindu

jelaga hati memerah
pertanda rindu telah berkecamuk
pujianmu telah mendahului

berhentilah
aku sedang merindumu dengan sangat
meski tak lagi melenakan hati

dimanakah engkau kini
lengah pena tuk memulainya dari baris mana
aku pun sudah alfa menulisnya
 

Gulita di Terang Ramadhan

aku dan kisahku
memulai dengan senyuman
lalu tangis terangkai dengan sedikit memelas
lalu mengerang karena ketakutan
ada yang tampak dalam pandangan
saat bai’at terangkat
pertanda keta’atan dan ketundukanku
menyemat kesungguhan pada nurani
tentang iman yang tersemat kukuh

terlena
dunia telah mengubahnya
semuanya sirna dalam sekejap
Ramadhan telah datang
menawarkan berjuta pintu bai’at
memenjarakan dosa
menghapus kebathilan
tapi dimana nurani kini
tetap tertelan nafsu

 

Selimut Cinta

senyum menjelma tangis
meluluh lantakkan keangkuhan
sang durjana raib sudah
terlena pada selimut cinta

adalah hati yang berhias noda
telah bersuci dengan salju
menjelma seperti malaikat
bersimpuh pada kesucian

jika bumi tak lagi ditapak
apalah guna raga
jiwa tak lagi berdimensi
menyatu dengan pencipta