5 Resep Awet Muda

Banyak orang jaman now yang yang selalu ingin terlihat muda. Jauh dari umur yang sebenarnya dari aspek penampilan fisik. Beragam teknologi kecantikan telah ditemukan. Mulai dari mengurangi kerutan wajah, memutihkan wajah, hingga yang paling ekstrim adalah dengan melakukan operasi plastik.

Ini sebuah sisat tekhnologi dan pengetahuan untuk bertahan dari “amukan” usia dan waktu. Meskipun tak ada yang menolak bahwa satu-satunya yang tak dapat dilawan adalah umur. Umur adalah sebuah sunnatullah yang pasti akan mempengaruhi penampilan fisik. Beragam resep teknologi berhasil di beberapa orang, tetapi tidak di banyak orang. Disamping itu biaya yang harus dikeluarkan juga tidak sedikit

Menurut KH. Muhammad Alwi Uddin, mengatakan, bahwa muda itu berarti terlihat muda. “Muda, cantik dan gagah adalah perasaan yang muncul pada saat memandang atau melihat orang lain. Dengan demikian maka semuanya terpulang kepada Tabiat dan prilaku seseorang. Kadangkala disebutkan bahwa untuk membuat wajah terlihat cerah dan bersih, maka hendaklah senantiasa membasuh wajah dengan air wudhu.

5 Kunci menurut KH. Muhammad Alwi Uddin adalah

  1. Kendalikan pikiran tentang dunia, jangan sampai menjadi prioritas hidup
  2. Perbaiki bekal hidup untuk akhirat dan Bersihkan Hati dari rasa dengki
  3. Selalu berbuat kebaikan dan amal sholeh
  4. Jangan mencela orang lain
  5. Selalu bersyukur dan bersabar

Untuk menjadi terlihat muda, resep ini sepertinya ampuh untuk kita lakukan.

Wallahuallam bi ssawab.

 

3 komponen penting pada metode penelitian

Peneliti dalam melakukan penelitian harus memperhatikan secara detail metode penelitian. Bagian ini menjadi panduan bagi peneliti untuk melakukan penelitiannya

Bagi penulis pemula, menyusun metodologi penelitian kadangkala mengalami kesulitan. Sementara urgensi penelitian terletak pada bagian ini. Metode penelitian akan membantu secara prosedural, agar hasil penelitian yang diperoleh kapabel dan dapat dibuktikan kebenarannya secara empiris.

Bagaimana menuliskannya dalam naskah. Beberapa template penelitian apalagi jurnal ilmiah, biasanya menyusun secara terstruktur. Akan tetapi keseluruhannya memuat jenis penelitian, waktu penelitian, variabel dan definisi operasional variabel atau fokus penelitian pada penelitian kualitatif, instrumen penelitian, teknik pengumpulan data, populasi dan sampel penelitian, teknik analisis data termasuk uji validitas dan reliabilitas instrumen penelitian.

Berkaitan dengan hal tersebut, maka dua hal penting ini perlu diperhatikan dalam merekonstruksi metode penelitian adalah sebagai berikut:

Pertama: Data dan sumber data

Dalam bagian ini data dan sumber data harus dituliskan termasuk sumber data yang diperoleh. Pengumpulan data sangat tergantung pada jenis data yang dikumpulkan, apakah data kualitatif atau kuantitatif. Jenis data dapat disederhanakan menjadi data primer dan data sekuder dalam penelitian. Data ini diperoleh dari sumber data apakah dari responden (jika penelitian kualitatif) dan informan (jika penelitian kuantitatif).

Kedua: Jenis penelitian

Jenis Penelitian secara umum dikena dengan penelitian Kualitatif, dan penelitian kuantitatif. Pada perkembangan selanjutnya juga telah dikenal penelitian Mix Method yaitu penelitian yang menggabungkan antara penelitian kualitatif dan kuantitatif dengan menentukan kecenderugann peneliti pada salah satunya sebagai premier penelitiannya.

Ketiga: Bagaimana data dianalisis

Setelah data dikumpulkan, lalu data tersebut dianalisis dengan teknik analisis data sesuai dengan jenis penelitiannya. Jika dalam proses analisis data menggunakan adopsi atau modifikasi metode maka perlu dituliskan sumbernya, sementara jika merupakan modifikasi, maka penulis harus menuliskan alasan dan pertimbangan melakukan modifikasi terhadap analisis data tersebut.

Pada bagian ini beberapa komponen yang di analisis, diantaranya adalah bagaimana cara penarikan sampel dari populasi jika penelitian kuantitatif dan subjek dan objek/informan penelitian jika penelitian kualitatif. Perlu juga dideskripsikan secara runtut prosedur analisis data yang dilakukan, prosedur pengumpulan data, termasuk cara perhitungan. Keseluruhan hal tersebut akan di uraikan secara detail, termasuk melakukan interpretasi terhadap nilai perolehan dari hasil analisis.

Ketiga bagian ini penting untuk dituliskan dalam bagian metode penelitian pada artikel ilmiah.

5 Langkah menulis Artikel

Penulis pemula mungkin memerlukan tahapan dalam menulis. 5 Tahapan ini cukup membantu dalam membuat tulisan artikel dengan baik

Kebanyakan penulis pemula menghadapi beragam tantangan dalam memulai menulis. Sering pertanyaan pertama yang disampikana adalah “Apa yang harusnya saya tulis”?. Memang, bagi sebagian orang pertanyaan ini sangat sulit dijawab. Jikapun seseorang telah menemukan apa yang mau ditulis, biasanya menyusul pertanyaan berikutnya “apa yang saya harus tuliskan terlebih dahulu.

Menulis memang butuh ide atau gagasan pokok, biasanya bersumber dari fenomena. Tetapi perlu diingat bahwa tidak semua fenomena di sekitar kita layak untuk ditulis. Paling tidak menjadi menarik jika dibaca oleh pembaca.

5 langkah berikut, dapat dijadikan pedoman bagi penulis untuk memulai menulis

Langkah Pertama: Membentuk Gagasan Penulisan

Menemukan ide dan gagasan penulisan memang tidaklah mudah. Jika seorang wartawan ingin menulis berita, tentu gagasan penulisan itu bersumber dari sebuah peristiwa. Meskipun tidak semua peristiwa itu layak di tuliskan (Imam Zulkifli). Tetapi ide dan gagasan itu dapat lahir dari peritiwa yang dialami oleh penulis sendiri, atau dari hasil bacaan yang kemudian dikodifikasi dengan pengalaman pribadi penulis.

Seorang guru misalnya dapat melahirkan ide atau gagasan tulisan tentang bagaimana meningkatkan kualitas pembelajaran yang dilakukannya agar siswa dapat meningkat hasil belajarnya.

Langkah Kedua: Meneliti Gagasan Penulisan

Setelah memiliki gagasan atau ide sebagai bahan dan fokus penulisan, perlu penulis meneliti gagasan tersebut. Penelitian ini tentu bersumber dari hasil bacaan dari buku, majalah, hasil peneltiian yang pernah dilakukan. Sekarang bahkan lebih mudah untuk meneliti gagasan melalui fasilitas internet. Hal ini untuk lebih mengkristalkan ide yang akan kita tuliskan.

Langkah Ketiga: Menyusun Kerangka Tulisan

Menyusun kerangka tulisan menjadi sangat penting. Kerangka akan menjadi pola bagi penulis pemula untuk mengembangkan idenya secara terstruktur. Teknik yang digunakan bisa dengan membuat pola mind mapping. Hal ini akan sangat membantu penulis mengembangkan tulisannya. Secara umum kerangka tulisan itu memiliki pendahuluan, isi dan kesimpulan.

Langkah Keempat: Menulis Artikel

Menulis artikel, berarti mengembangkan dalam bentuk narasi dan paragraf. Model baku yang dapat digunakan adalah P-D-K (Pendirian-Dukungan-Kesimpulan) atau P-S-P (Pendapat-Sanggahan-Pendirian). Dalam proses ini anda membutuhkan kemampuan menyusun paragraf dan kemampuan untuk meneliti sumber tulisann sebagai penguat. Jadi penulis membutuhkan pula kemampuan untuk memparafrase tulisan agar tidak menjadi plagiat. Pada setiap yang telah ditentukan usahakan membuat deskripsi dengan baik, tentu dengan dukungan empiris jika bentuknya tulisan ilmiah.

Langkah Kelima: Menyelesaikan tulisan

Menyelesaikan tulisan sebenarnya adalah proses akhir dari rangkaian tahapan ini. Penulis harus membaca berulang-ulang dan melakukakan pengecekan terhadap intonasi, struktur kalimat, tata bahasa, dan hubungan antar paragraf. Termasuk pada bagian ini penulis dapat melakukan editing terhadap apa yang telah dikembangkannnya.Jika dipandang perlu, penulis dapat meminta bantuan orang lain untuk membaca dan mereduksi kesalahan bahasa dalam penulisan.

5 Langkah ini akan membantu penulis pemula mengembangkan gagasannya dalam bentuk tulisan. Tinggal penulis terlebih dahulu menentukan, jenis artikel yang akan ditulisnya, apakah dalam bentuk essay, news, featuring dan jenis lainnya. Yang perlu dilakukan adalah luangkan waktu secukupnya untuk menyelesaikan tulisan, jangan terburu-buru.

Perlukah penulis menjadi parafrasis

Menjadi penulis perlu menjadi prafrasis yang memiliki keterampilan membuat parafrase dalam membuat rekonstruksi konsep atau teori.

Menulis dibutuhkan beberapa keterampilan. Salah satunya adalah keterampilan membuat parafrase dari sebuah teori atau konsep. Biasanya parafrase dilakukan penulis saat menyusun atau merekonstruksi TEori dalam tinjauan pustaka sebuah tulisan ilmiah.

Untuk membangun konsep atau teori yang melandasi sebuah penelitian, pasti berasal dari sumber pustaka baik dari buku, majalah, jurnal ilmiah, surat kabar dan sebagainya. Termasuk dalam hal ini sumber dari internet seperti e-book, prosiding, seminar dan sebagainya.

Parafrase dalam makna sederhana selalu merujuk penggunaannya pada puisi atau karya sastra. Parafrase dari puisi menjadi prosa tanpa membuang makna aslinya.

Dalam pengertian umum khususnya dalam istilah linguistik parafrase bermakna pengungkapan kembali suatu konsep dengan cara lain dalam bahasa yang sama, namun tanpa mengubah maknanya (Wikipedia)

Bagi penulis keterampilan membuat prafrase sangat dieprlukan, agar dapat menghindari diri dari kesalahan penafsiran dan membuang makna sebenarnya pada saat melakukan pengutipan tidak langsung dalam pengutipan.

Untuk dapat membuat parafrase seorang parafrasis perlu terlebih dahulu benar-benar memahami tiga aspek dari yang akan diprafrase yaitu aspek ontologi, episitimologi dan aksiologinya, sehingga tidak menghilangkan makna atau arti yang dimaksudkan oleh sumber. Penulis dapat mengidentifikasi beberapa kata kunci terkait dengan hasil bacaan untuk kemudian merekonstruksi ulang bahasa yang digunakan.

Perlu di ingat bahwa meskipun konsep atau teori yang dikutip tersebut diparafrase, penulis tatap wajib mencantumkan sumber bacaannya.

Sebagai contoh yang paling mudah adalah
“Rudi memperhatikan Andini sambil mengangkat kaki kirinya di atas meja”. Kalimat ini dapat diparafrase secara sintaksis menjadi “Rudi mengangkat kaki kirinya di atas meja sambil memperhatikan Andini”.

Jadi penulis perlu memiliki keahlian dalam sintaksis untuk memparafrase sebuah kalimat. Yang pasti dalam satu kalimat, akan banyak kemungkinan parafrase yang dapat dibuat oleh penulis.

Cara Menyusun Tinjauan Pustaka

Tinjauan Pustaka menunjukkan pemahaman, wawasan dan pengetahuan penulis terhadap tema artikel yang ditulisnya

Bagian integral dari sebuah artikel ilmiah adalah tinjauan pustaka atau konsep dan teori pendukung artikel. Bagian ini merupakan proses mengidentifikasi, mengkalisifikasi dan menetapkan konsep atau teori yang dapat mendukung penelitian. Paling tidak dapat memberikan awaban secara teorities dari masalah yang diangkat dalam artikel ilmiah.

Sedapat mungkin bahan atau kosep yang ditulis dalam bagian ini adalah yang terbaru atau merupakan kodifikasi dari temuan terbaru. Secara khusus bagian ini menajdi state of art, dan menjadi dasar perumusan hipotesis jika ada da menjadi dasar dalam mengiterpretasikan data empiris penelitian.

Tinjauan ustaka menuntut penulis untuk dapat menilai, mengidentifikasi dan menentukan sumber pustaka yang relevan dan sesuai, melakukan perpaduan dan sintesis dari beberapa pandangan atau konsep yang berbeda. Penulis juga ditntut untuk dapat menentukan sikap terhadap beberapa konsep dan teori yang danggap bertentangan.

Dalam tinjauan ini juga akan dijadikan dasar untuk menyusun kerangka pikir, atau kerangka konseptual. Perlu diingat bahwa masalah yang dimunculkan dalam artikel ilmiah perlu memperoleh dukungan teorities atau menjadi bangunan  framework teori. Framework teori sebenarnya menjadi ruang lingkup dan batasan dari apa yang akan dibahas.

Model yang dikenal dalam menyusun literatur adalah dengan kutipan langsung atau tidak langsung. Dapat pula dilakukan parafrase. Parafrase yang dimaksudkan secara sederhana diterjemahkan sebagai kemampua penulis menyusun kata dan kalimat sendiri tanpa mengurangi makna dari penulis sebelumnya.

Perlu diingat bahwa sepanjang dalam literatur tersebut dituliskan dalam naskah artikel, maka harus tetap menyebutkan sumbernya secara jelas, apakah sumber tersebut berasal dari buku, majalah, atau bersumber dari resources internet.

Contoh sederhana Zainal (2016) berpendapat, atau keyakinan (Mufti, 2015) dan seterusnya. Setelah bagian ini, maka penulis perlu menuliskan kecederungan dan pandangan terhadap apa yang dijadikan sebagai sumber konsep atau teorinya.

Dalam membuat rujukan atau kutipan, perlu penulis memperhatikan teknik penulisan. Hal ini terkait dengan notasi ilmiah dan perlu menyesuaikan dengan template penulisan dimana artikel tersebut diterbitkan. Selain itu, juga perlu diperhatikan struktur dan urutan penyajian teori yang dituliskan dalam naskan. Sedapat mungkin disesuaikan dengan alur dari kerangka pikir atau kerangka teori yang dibangun oleh penulis.