Aku dan Bumi sedang Jeda

Ketika bumi ini seperti berontak. Menolak semua penghuninya khususnya manusia, yang selama ini sejak lahirnya telah menghuni dengan sedikit kepedulian tentang daya tahan bumi terhadap prilaku manusia. Bumi ini lagi jeda. Lagi tak ingin diganggu. Tak ingin dipenuhi dengan asap dari corong-corong pabrik, dan dari knalpot kendaraan. Bumi ingin jeda, digali, ditimbun, diratakan dan dipancangkan tiang-tiang beton ke perutnya. Bumi sedang lelah, tak tau bagaimana cara membuat dinamika manusia seirama dengan dinamikanya sendiri. Bumi sedang memperbaiki diri.

Bumi mendapat pertolongan, dari makhluk yang kecil, lembut, halus tetapi perkasa. Dia terkenal diseantero dunia  dengan nama Covid-19. Makluk ini pernah hadir dahulu kala, saat saya belum lahir, Tahun 1937. Tak ada informasi yang cukup untuk menjadikan kehadirannya dahulu sebagai pertanda agar manusia waspada akan dirinya. Bahkan di media 2020 baru saya membacanya disebuah pembungkus sabun hiegenis, bertuliskan bahwa cairan itu dapat menangkal virus corona. Tapi apa daya sudah hilang dipasaran.

Corona menjadi sangat populer, bahkan dimesin pencari telah terindeks kurang lebih 1.010.000.000 kata corona. Tak heran, karena semua media online menjadikan corona sebagai kata kunci. Dana hampir separuh manusia di bumi mencari dan menuliskan kata corona di perambah internet. Corona karena kepopulerannya menenggelamkan beragama issu hangat yang mendahuluinya. Corona membuat semua jeda, manusia tersentak dan menjadi sangat cemas. Lemah, tak berdaya melingkupi kehidupan manusia hari kehari.

Manusia banyak meninggalkan kebiasaannya. Tidak lagi banyak yang lalu lalang kesana kemari, ngumpul menjadi bentuk ketakutan, berdekatan membuat jadi tak nyaman. Bekerja turut menjadi jeda. Paling tidak bekerja tidak seperti pada kebiasaan sebelumnya. Bahkan kecurigaan pada sesama juga muncul karena corona. Bumi sedang jeda, sedang membenahi diri, sedang istirahat menerima perilaku manusia. Bumi sedang menikmati kehidupannya sendiri. Tak ingin campur tangan manusia terlalu dominan. Akupun turut jeda.  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *