Bom itu bernama Covid-19

Ketika semua sibuk dengan aktivitasnya, seperti sudah lupa dari mana bermula kehidupannya dan kemana akan berakhir. Semua fokus pada apa hari ini sebagai pelengkap hari kemaren, dan apa yang harus dilakukan besok. Meskipun orientasinya semata-mata untuk kesenangan dunia, dan bahkan sepertinya hanya berorientasi pada lembaran-lembaran rupiah. Para penguasa sibuk menggunakan kekuasaannya yang kadang kala membuat sebagian atau sekelompok orang merasa terintimidasi. Atau para pengusaha yang tiba-tiba meraup keuntungan besar, meskipun sebagian orang merasa hak dan rejekinya terambil oleh mereka. Hiruk pikuk kehidupan dunia seperti busur panah yang melesat begitu cepat dan tak akan ada yang sanggup menahannya.

Plak, tiba-tiba semua terdiam, gemetar, gelisah dan seperti kehilangan nuansa. Covid 19 mewabah dan seperti menjadi sebuah BOM yang meledak memecah hiruk pikuk mereka meraup rupiah, menista, mencemooh dan mengebiri kebebasan. Penguasa jeda dengan kekuasaannya, pengusaha turut jeda pada usahanya, para politisi jeda mengumpul massa. Semua Jeda. Covid-19 telah mengalahkan Bom Atom yang jatuh di Herosima dan Nagasaki, telah mengalahkan keganasan Hitler, atau kekhawatiran terhadap Narkotika, Intoleransi, Radikalisme dan Ekstrimisme. Semua fokus pada Covis-19. Jeda.

Meski demikian, masih juga beberapa orang merasa tak punya apa-apa pada peristiwa ini. Semakin tinggi tingkat wabah ini menyebar, tak mengalahkan tingginya inspirasi sebagian orang menjadikan pandemi ini sebagai bahan guyonan dengan beragam alasan pembenaran mereka. Bahkan seperti menajdi titik balik kemerdekaan mereka mengumbar kreativitasnya, yang juga berbanding dengan jumlah orang yang menikmatinya. Mereka dulu jeda, tetapi menjadi bringas saat kebanyakan orang jeda karena Covid-19.

Ada pula yang tak meninggalkan kebiasaannya. Mencari siapa yang salah. Mencari dari sudut mana mereka bisa menyalahkan orang lain, menyalahkan pemerintah, tetapi tak terlibat dalam mencegah, tak punya ide untuk mengurangi penebarannya. Bersilang pendapat dimeja Diskusi hingga berlarut-larut an berujung pada tepuk tangan riuh. Tapi tak mengobati apa-apa. Paling tidak rating menjadi semakin tinggi.

Covid-19. Tawa, Canda, Tangis lahir atasnya.

Leave a Reply