Sebuah Hikayat: Bondeng Sagena Namanya

20 tahun baru saya kembali ke kampung tempat kelahiran saya. Sebuah kampung didekat kaki gunung yang sejak dahulu terbilang asri, indah dan menawan. Pemandangan yang indah tersaji dengan apik. Lereng gunung yang ditumbuhi pepohonan berwarna kehijauan yang akan berubah berwarna putih kala musim berbunga tiba.

Sawah  yang berundak undak seperti prasasti yang direlief indah. Aliran sungai yang meliuk-liuk dengan kejernihan airnya menambah suasana menjadi semakin nyaman. Penduduk kampung saya menjadikan sungai sebagai tempat untuk mencuci, mandi, dan bahkan menjadi tempat untuk mencari ikan air sebagai lauk. Setiap halaman rumah ditanami bunga dengan berpagar bambu yang dicat dengan warna yang sama. Disisi rumah lainnya kami  juga menanam sayur mayur dan tumbuhan lain seperti Mangga, Nangka, Jeruk Bali dan Sirsak. Hampir semua kebutuhan sehari-hari dapat kami peroleh disekitar rumah kami.

Sebenarnya kepulangan saya kali ini terbilang misteri. Keluarga meminta saya kembali karena sahabat saya dikampung dalam keadaan kritis.

“Pulanglah dulu nak, mungkin engkaulah yang ditunggu datang Bondeng Sagena” kata kepala desa saat beliau menelpon.

“Tidak bisa pak. Saya agak repot, mana suami lagi tugas di daerah” tolakku kala itu.

“Tolonglah nak, Bondeng selalu menyebut namamu” kata kepala desa memelas.

Akhirnya hari ini saya dengan berat hati pulang kampung. Sepanjang jalan, tidak banyak yang berubah. Dikiri kanan jalan masih terpampang pemandangan indah seperti dulu. Tapi perjalan kali ini tidak dapat kunikmati. ingatan saya hanya tertuju pada Bondeng. Mengapa saya yang ditunggu, seakan-akan ajalnya tak akan sampai jika belum bertemu dengan saya. Atau mungkin karena Bondeng menganggap saya satu-satunya sebagai keluarga dekatnya.

Bondeng Sagena memang sahabat saya sejak kecil. Tak ada yang dirahasiakannya kepada saya hingga saya berpisah karena mengikuti orang tua yang dipindahkan bekerja di Kota. Sejak saat itu saya tidak pernah kembali ke kampung. Ayah sudah menjual seluruh harta dikampung untuk menetap di Kota. Seingat saya, sejak meninggalkan kampung saya tiga kali kembali dan bertemu Bondeng. Kami bertemu saat suami pertamanya Ali meninggal, saat Bondeng dinikahi Bandu selang satu tahun kemudian dan saat Bandu meninggal Dunia karena sakit.

Kala itu, Bondeng Sagena masih sosok wanita yang menjadi idola banyak lelaki. Bondeng Sagena Selain cantik, dengan rambut panjangnya juga memiliki banyak keahlian dan keterampilan. Bondeng selalu menjadi langganan hajatan pengantin, hajatan Maulid dan hajatan apapun jika membutuhkan koki. Masakan Bondeng terbilang nikmat disantap. Bondeng tak pernah kursus memasak, tetapi bahan apapun dapat diolahnya dengan baik di dapur hingga menjadi masakan nikmat untuk disantap.

Bondeng juga seorang yang memiliki keahlian merias pengantin. Dengan peralatan sederhana, bondeng dapat merias pengantin hingga menjadi seperti bidadari dari kayangan. Meskipun Bondeng sering membantu penduduk dikampungnya, tapi Bondeng tidak pernah meminta bayaran. Bahkan kadang kala menolak.

“Saya masih punya harta yang tidak bisa saya habiskan sampai saya mati” itu katanya setiap saat ketika diberi balas saja.

Memang Bondeng Sagena terhitung sebagai orang kaya dikampung. Sawah ladang yang luas cukup bisa menghidupi 5 keluarga besar. Apalagi Bondeng Sagena tidak memiliki keturunan sejak Suaminya meninggal 5 kali berturut-turut. Bagaimana Bondeng bisa memiliki keturunan, sementara setiap kali menikah selang beberapa bulan suaminya meninggal. Pernah sekali waktu ditanya apakah Bondeng masih mau menerima jika datang seorang lelaki melamarnya.

“Iyya, jika cocok Insya Allah saya akan terima” jawabnya spontan setiap kali ditanya.

Bondeng Sagena sebenarnya tidak berasal dari keluarga kaya. Dia anak tunggal dari keluarga miskin dikampungnya. Ayah Bondeng hanya menjadi buruh tani, sementara ibunya Bondeng sudah meninggal sejak Bondeng masih berumur 3 tahun. Kekayaan Bondeng Sagena sebenarnya berasal dari warisan almarhum Ali suami pertamanya. Seluruh kekayaan suaminya menjadi haknya. Ali Suami pertama Bondeng orang kaya. Dari pernikahannya dengan Ali, Bondeng tidak memperoleh keturunan. Bondeng dinikahi Ali saat Bondeng masih berumur 15 tahun. Umur perkawinannya dengan Ali hanya 6 bulan. Ali meninggal karena jatuh saat memanjat kelapa ikebun miliknya.

Setelah Ali meninggal, satu tahun kemudian Bondeng menerima pinangan Bandu, seorang Duda Kaya yang tidak punya anak yang sudah berumur 65 tahun. Saya pernah bertanya ke Bondeng saat dinikahi Bandu.

“Bondeng!. Kenapa mauki jadi istrinya Bandu, na tuami, baru kita masih muda”?

“Dak papa.. Biar tua yang penting banyak uangnya” jawab Bondeng. “Nanti kalau meninggalki kan hartanya jadi milikku semua” kata Bondeng lagi sambil tertawa memperlihatkan barisan gigi putinya.

“Dak bisa kau ambil semua hartanya suamimu kalau meninggalki, ka ada mertuamu to” tanyaku lagi.

“begh.. na meninggalmi mertuaku saya dua-duanya, baru dia dak punyaji saudara, jadi pastimi hartanya jadi milikku” jawab Bondeng.

“Jadi kalau meninggal suamimu terus ada yang lamarki, maujiki terima lagi?”

“Ih mauka, yang penting banyakji juga hartanya” jawab Bondeng.

“Kenapa na banyakpi hartanya baru mau nuterima?

“Nanti kalau suamiku miskin, nakasi habisji nanti hartaku gang” jawab Bondeng serius.

“Jadi biar tua yang penting banyak hartanya maujiki terimaki?” tanyaku lagi.

“tidak tong itu iyya. Kalau ada yang kaya baru masih muda maujaka juga terima” jawab Bondeng sambil memperbaiki posisi gelang emasnya.

Bondeng bersuami bukan lagi karena alasan ibadah dan keturunan. Bondeng hanya menjadikan kekayaan sebagai persyaratan pernikahan. Memang dalam ajaran agama salah satu yang menjadi pertimbangan mencari jodoh adalah karena kekayaannya. Akan tetapi bukan semata-mata karena pertimbangan tersebut.

“saya kalau masalah hubungan intim dakji, biar lagi tidak begitu dak papaji” jawab Bondeng kalau ditanyakan masalah nafkah bathin yang harus dipenuhi. “Bandu ka dak bisami, tuami baru sakit-sakitan, tapi dak mauja memang saya” kata Bondeng lagi.

Berati Bondeng memang menikah semata-mata untuk tujuan harta saja. Ketika Bandu suami kedua Bondeng meninggal, mulailah cerita buruk menimpanya. Bondeng dianggap sebagai wanita yang memiliki nasib sial. Siapapun yang menikah dengannya pasti akan meninggal. Bondeng dianggap sebagai wanita yang dapat memperpendek umur laki-laki yang menjadi suaminya. Bahkan dianggap Bondeng memiliki guna-guna agar laki-laki yang dinikahinya berumur pendek. Apalagi selama ini Bondeng juga tidak pernah mau menerima pinangan laki-laki jika berasal dari keluarga miskin. Harta Bondeng dia peroleh dari suami pertamanya, ditambah lagi harta dari suami keduanya Bandu yang meninggal setahun setelah pernikahan mereka.


Tanpa terasa sayapun tiba di Kediaman Pak Desa. Saya melihat pak Desa tergopoh-gopoh menyambut saya turun dari kendaraan.

“Bagaimana kalau kita langsung saja kerumahnya Bondeng?” kata pak Desa

“Naikmi dulu dirumah istirahat nak” suara ibu desa dari atas rumah mencegah niat pak Desa langsung kerumah Bondeng Sagena.

Akhirnya saya istirahat sejenak dirumah pak Desa.

(Bersambung)

 

 

 

 

Leave a Reply