Tantangan Baru Pendidikan Pasca Covid-19

Pelaksanaan pendidikan dan pengajaran di semua tingkatan perlu segera melakukan transformasi besar-besaran. Kondisi Pandemi Covid-19 telah memaksa terjadinya perubahan lingkungan pendidikan yang menghendaki model interaksi yang baru sebagai bentuk dan model penyesuaian terhadap pola interaksi manusia dalam pemcegahan Covid-19. Jika selama ini fokus diarahkan pada peningkatan kualifikasi kompotensi guru sebagai pendidik, khususnya kompotensi dalam penyusunan rencana pembelajaran mengalami perluasan dalam bentuk tuntutan menyusun perencanaan pembelajaran dengan mengintegrasikan teknologi informasi dan komunikasi didalamnya.

Penggunaan teknologi dan mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran mengandung makna yang berbeda. Terminologi yang selama ini digunakan bahwa pendidikan dalam prosesnya perlu menggunakan TIK dalam pelaksanaannya, telah berbeda dengan terminologi mengintegrasikan TIK dalam proses pembelajaran. Penggunaan teknologi berarti guru dan peserta didik memanfaatkan device dan intervace teknologi dalam pembelajaran. Guru menggunakan komputer dalam menyusun rencana pembelajaran, dan menyampaikan materi pembelajaran didalam interaksi pembelajaran dikelas. Sementara peserta didik menggunakan perangkat atau device yang sama untuk menerima dan mengakses sumber belajar dan bahan ajar yang telah disiapkan oleh guru.

Terminologi kedua adalah mengintegrasikan ICT dalam Pembelajaran (Zainal, 2018) dimana device, tools dan intervace teknilogi informasi dan komunikasi tidak semata-mata menjadi alat bantu dalam pembelajaran, tetapi sudah inhern dengan seluruh rangakaian kegiatan pembelajaran. Teknologi sudah menjadi media,, sumber belajar, dan kondisi lingkungan kelas yang secara keseluruhan berbasis teknologi informasi. Media dan sumber belajar disediakan oleh guru untuk dapat diakses dalam ruang virtual oleh peserta didik. Sudah terjadi proses perpindahan kekelas virtual, dimana interaksi pembelajaran sudah berlangsung didalam ruang-ruang kelas virtual yang dibuat dan disiapkan oleh guru.

Kondisi ini menuntut adanya perluasan makna dan terminologi kompotensi guru yang secara keseluruhan harus disertai dengan kemampuan literasi digital yang mumpuni. Transformasi model pembelajaran dari kelas-kelas convensional ke arah kelas virtual menuntut kemampuan dan keterampilan guru dalam memanfaatkan, mengoperasikan dan menyediakan informasi digital yang akan disampaikan pada kelas virtual. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi guru karena disamping dituntutu untuk mampu mendesain kelas virtual, menyediakan kontent pembelajaran virtual, juga dituntut untuk memiliki infrastruktur perangkat digital yang memadai termasuk koneksi jaringan internet.

Perluasan terminologi jika digiring pada pengelolaan pendidikan dan pengajaran menghendaki pengelolaan pendidikan sudah perlu memanfaatkan ICT baik dari aspek managerial maupun dalam interkasi pembelajaran yang dilaksanakan guru.

Pada umumnya ada dua bagian yang perlu segera menggunakan ICT yaitu:

  1. Domain yang berhubungan dengan berbagai aktivitas front-office, yaitu penggunaan teknologi informasi dalam kaitannya dengan pendaftaran siswa baru, promosi, pengelolaan keuangan, administrasi perkantoran sudah perlu menggunakan  electronic commerce, pengiriman uang (transfer) melalui internet banking, permintaan informasi melalui call center, dan beragam aplikasi lainnya.
  2. Domain kedua adalah dengan cara memanfaatkan teknologi informasi untuk meningkatkan efisiensi aktivitas pembelajaran, seperti penggunaan intranet untuk sarana komunikasi dan kolaborasi, dalam pembelajaran, pengembangan sistem administrasi bebas kertas (paperless office), implementasi virtual classroom, pemakaian sistem informasi eksekutif dan decision support system, dan lain sebagainya.

Untuk dapat bertahan dalam perubahan tersebut, maka individu dan organisasi harus mampu beradaptasi agar dapat menghadapi persaingan. Abad 21 merupakan era dimana informasi dapat diperoleh dimana saja  dan kapan saja, ketersediaan sarana komputasi, dan otomatisasi yang dapat terhubung dengan khalayak. Kondisi ini disamping harus dihadapi, juga harus dimanfaatkan dengan baik, termasuk didunia pendidikan. Artinya dunia pendidikan sudah harus mengintegrasikan teknologi ICT dalam prosesnya. Darling-Hammond, (2006 ) dan Azam & Kingdon, (2014) mengemukakan bahwa pendidikan memerlukan transformasi secara menyeluruh agar terbangun kualitas guru yang mampu memajukan pengetahuan, pelatihan, ekuitas dan prestasi  siswa. Transformasi tersebut dilakukan dengan merubah model dan pendekatan pembelajaran kearah pembelajaran yang terintegrasi dengan ICT.

Dengan demikian guru mau tidak mau harus menguasai perangkat, program intervace dan tools teknologi informasi. Kompetensi guru terletak pada kesadaran akan tren teknologi informasi yang cepat berubah dan dapat mengintegrasikan teknologi informasi dan komunikasi dalam pembelajaran. Guru tidak hanya sebatas menggunakan device teknologi untu melaksanakan interaksi pembelajaran di kelas, tetapi perlu diperluas menjadi mengintegrasikan teknologi bukan hanya sebagai media, tetapi termasuk sumber dan proses pembelajaran. Dengan demikian, guru mampu mendorong dan mempersiapakan peserta didik untuk menghadapi tantangan baru dimasa depan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *