Literasi Sekolah

Muh. Zainal. 2018. Literasi Sekolah. Kesadaran akan rendahnya tingkat literer warga sekolah menjadi dasar keharusan desain pembelajaran mengintegrasikan program literasi sekolah. Literasi sekolah dalam panduan yang diterbitkan Kementerian pendidikan nasional dimaknakan sebagai kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis, dan/atau berbicara. Kemampuan ini tidak hanya diperuntukkan bagi siswa, akan tetapi kepada semua stakeholders pendidikan. Meskipun dalam konteks pembelajaran, lebih difokuskan pada kemampuan guru mendesain pembelajaran dengan mengintegrasikan kemampuan literer kepada siswa.

Program literasi sekolah sebenarnya menganut konsep Learning Organization yang dipopulerkan oleh Peter Sange yang akan mendorong penciptaan habit “belajar” didalam lingkungan organisasi. Sekolah sebagai sebuah organisasi pendidikan menjadi sangat urgen untuk menciptakan kondisi tersebut. Oelh karena itu dalam panduan Gerakan literasi sekolah merupakan sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik.

Terdapat beberapa padangan tentang literacy. Akan tetapi cenderung dipahami literasi sebatas membaca literatur semata. Padahal literasi lebih dari itu. Literasi mencakup keterampilan berpikir menggunakan sumber-sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual, digital, dan auditori.

Disamping itu juga literasi memiliki beberapa tingkatan, diantaranya adalah ;

  • Literasi Dini (Early Literacy),
  • Literasi Dasar (Basic Literacy),
  • Literasi Perpustakaan (Library Literacy),
  • Literasi Media (Media Literacy),
  • Literasi Teknologi (Technology Literacy),
  • Literasi Visual (Visual Literacy).

Tingkatan capaian literasi akanmempengaruhi kualitas hidup seseorang, yang berarti bahwa kemampuan literasi siswa dan guru akan mempengaruhi kualitas proses dan hasil interaksi pembelajaran di dalam kelas. untuk tujuan tersebut, perubahan K-13 mengharuskan guru dapat mendesain pembelajaran dengan mengintegrasikan program literasi sekolah didalam RPP. Selain itu diharapkan guru dapat mengintegrasikan pada kegiatan lain seperti kegiatan  ektrakurikuler, intrakurikuler dan aktivitas pembelajaran lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *