Ada dan Tiada

Tengah hari Thasa Bin Upe berjalan gontai meninggalkan halaman sekolahnya. Di bawah terik matahari yang menyengat tak dipedulikannya. Langkah demi selangkah perlahan membuat jarak yang semakin jauh dengan pagar halaman sekolahnya. Beberaa menit kemudian Thasa Bin Upe telah sampai di depan rumahnya.

Selang beberapa saat Thasa telah duduk di serambi rumahnya menikmati kendaraan yang sesekali melintas lengkap dengan deru dan asapnya. Pikiran Thasa melayang jauh. Memikirkan tentang dirinya sendiri.

“Saya ada di rumahku sekarang”. Gumamnya. Jika seseorang mencariku di sekolah pasti yang ditanya akan menjawab bahwa “aku tidak ada”. Betulkah aku tidak ada, sementara aku “disini” dirumahku. Bagaimana pula dengan temanku, dia tidak ada disini, sementara aku “yakin” bahwa temanku “berada” di suatu tempat. mungkin di rumahnya, atau dikebunnya, atau di mall, yang jelas aku yakin jika dia “ada” tapi tidak disini.

Thasa bin Upe memeras otak mencari jawabannya. Mengapa aku disebut tidak ada disuatu tempat sementara ditempat lain aku ada.

Karena bingung, Thasa bin upe mendatangi teman-temannya bertanya tentang ada dan tidak adanya dirinya.

Temannya kemudian memberinya jawaban. Thasa “ada” di Pontianak dan benar ada di pontianak tetapi adanya tidak dalam bentuk “nyata” tetapi “adanya” sungguh-sungguh dalam pikiran-pikiran “Eva”. Tentulah Eva tidak dapat menggapai Thasa dalam jangkauan “panca inderanya”. Berbeda dengan Thasa yang dapat menjangkau “adanya” dirinya dalam panca inderanya.

Lalu mengapa Thasa dapat menjadi “tiada”. Karena Thasa dan dirinya menjangkau dengan panca inderanya, sementara “Adanya” Thasa di Pontianak tidak bisa “tiada” karena dia “ada” dalam pikiran Eva.

Jika demikian, dimana “rumahku”?. Tanya Thasa. Rumahmu ada pada dua dimensi, yaitu dimensi “abstrak” bersama “Eva” dan dimensi “realitas” bersama Thasa sendiri. jawab temannya.

Thasa mengangguk-angguk bertambah bingung…..

Leave a Reply