Cilaka Sekolah (1)

Ketika Cilaka mengikuti pelajaran IPS disekolah, Cilaka tidak memperhatikan penjelasan guru. Cilaka hanya sibuk mengobrol dengan teman sebangkunya. Kelakuan Cilaka diketahui gurunya.

“Cilakaa… jangan mengobrol di belakang” teriak gurunya.
“Eh iyya bu guru…!, maaf…” jawab cilaka sambil memperpaiki duduknya.
“Sekarang ibu tanya….” kata guru Cilaka.
“Iyya bu guru..” jawab Cilaka serius.
“Siapa yang tanda tangani Piagam Jakarta Cilaka?” tanya gurunya kemudian.

Sejenak Cilaka terdiam sambil skali-kali menggaruk kepalanya berpikir.
“Anu bu Guru…. Saya kan belum terlalu pintar menulis bu..” jawab Cilaka
“Iyya tapi apa hubungannya….siapa yang tanda tangani” tanya gurunya dengan nada sedikit tinggi.
“Iyya bu guru.. kan tidak mungkin saya yang tanda tangani Piagam itu bu guru.. saya kan menulisnya belum lancar bu Guru… kan tidak mungkin saya yang tanda tangani..” jelas Cilaka penuh keyakinan.
“Sumpah bu guru… bukan saya” kata Cilaka menegaskan jawabannya.
“Iyyaaaaaa….. Bu Guruuuu.. tidak mungkin Cilaka yang tanda tangani…..” teriak teman-teman Cilaka serempak.

Karena kesal gurunya pun mengakhiri pelajaran. Kemudian Guru Cilaka memanggil Cilaka menghadap kepada kepala sekolah. Cilakapun bergegas menuju kantor kepala Sekolah.

“Assalamu ‘alaikum” kata cilaka di depan kantor kepala Sekolah.
“Waalaikumussalam.. ooo kamu Cilaka! masuklah…!” jawab Kepala Sekolah
“Terima Kasih Pak….” kata cilaka sambil masuk dan duduk di depan kepala sekolah.
“Kenapa Cilaka..?” tanya Kepala Sekolah
“Anu pak.. Tadi bu guru mengira yang Tanda tangani Piagam Jakarta Itu saya Pak… Padahal kan saya menulis saja belum lancar.. bagaimana mau tanda tangan..” jelas Cilaka bersemangat.

Kepala Sekolah tiba-tiba terdiam sambil berpikir”
“Kalau bukan Cilaka… lalu siapa kira-kira yang tanda Tangani yah…” jawab kepala Sekolah Kemudian.
“Iyya.. pak! saya sumpah pak bukan saya yang tanda tangan” jawab Cilaka.
“Cilaka…! kalau begitu panggil gurumu kesini! kamu boleh pulang yanh” perintah Kepala Sekolah kepada Cilaka.

Cilakapun memanggil gurunya masuk ke ruang Kepala Sekolah, sebelum dia pulang ke rumahnya. Setelah itu, Guru Cilakapun masuk ke ruang kepala sekolah.

“Bu guru.. kelihatannya memang Cilaka Tidak mungkin menanda tangani Piagam Jakarta itu….” jelas Kepaa Sekolah meyakinkan Guru Cilaka.
“Iyya pak… tapi kalau bukan dia… kira-kira siapa yah?” tanya Guru Cilaka.
“Begini saja..’ besok kita Rapat Dewan guru bersama Komite.. untuk membahas siapa Kira-kira yang tanda tangani Piagam Jakarta itu” jelas kepala Sekolah.

Ketika cilaka telah sampai di rumahnya.. ibunya kembali heran.. Kenapa cilaka kelihatan murung.
“Cilaka.. kenapa nak… koq murung, ada masalah apa lagi di sekolah” tanya ibunya.
“Anu bu… tadi bu guru mengira saya yang tanda tangani Piagam jakarta mama” jelas Cilaka pada Ibunya.
“Ah…. Gurumu itu saja yang tidak Tau..memang bukan Kamu Cilaka yang Tanda Tangani… Tapi mama kemarin yang tanda tangan disitu. Besok beritahu Gurumu nak yah” jelas ibu Cikal.
“Iyya mama nanti saya sampaikan..” kata Cilaka dengan nada puas.

by uak, Monday, July 6, 2009 at 7:05pm

Leave a Reply