Matahariku di Sore Hari

Sore menjelang, matahari dari jauh meredup sinarnya. Menerpa beberapa bagian tubuhku. Termasuk bahagian lain dari semua benda yang ada disekitarku seperti meja, kursi, pagar dan sebagainya. Yang tak kalah indahnya adalah kilatan sinar matahari yang menerpa permukaan air. hingga sedikit menyilaukan mata.
Sungguh sebuah keadaan yang hampir setiap hari kunikmati saat aku berada disini. 

Hati tiba-tiba merasakan kedamaian karenanya. Lalu pikiran teangkai menjadi beragam pertanyaan. Mengapa demikian, bagaimana bisa terjadi. Matahari benarkah  sinarnya telah meredup. Benarkah Air mengkilat seperti yang ditangkap panca inderaku?

Bagaimana aku menjawabnya. Tentu jawaban sederhana adalah bahwa segala sesuatunya terjadi atas kehendak-Nya, serta segala keindahan itu diperuntukkan hanya untukku dan untuk manusia lainnya. Tapi pernahkan kita merenungi betapa dahsyatnya hal tersebut bisa terjadi. Dan pernah pulakah kita sadari bahwa setiap peristiwa yang terjadi disekita kita, hanya beberapa bahagian saja yang mampu dijawab oleh akal kita. 
Cobalah kita merenung sejenak, tentang matahari yang begiru terik sinarnya, tiba-tiba menjadi redup seketika. Apakah sinat matahari yang meredup sinarnya, atau alat panca indera kita yang terbatas menangkap pancaran cahaya matahari itu. Hal lain yang mengherankanku adalah, matahari kenapa hanya mampu menyinari sebagian dari badanku, meskipun tidak membuat sisi badanku yang lain menjadi gelap gulita. Pernah aku membaca beberapa sumber tentang Matahari dari sudut Ilmu Pengetahuan. Semuanya tak kupahami. Tapi yang pasti sore ini kuteringat Pesan dari Qurays Shihab bahwa:

“mestikah kita berhenti menikmati sinar matahari hanya karena kita tidak mengenalnya utuh”

Cukuplah matahari hari ini memberiku hikmah luar biasa bahwa sungguh Maha Perkasa Allah yang telah menciptakan Matahari ini untukku.

11 Replies to “Matahariku di Sore Hari”

Leave a Reply