Membongkar Blocking Mental Penulis Pemula

“Saya Takut menulis, Bukan, saya tidak takut, hanya saja saya tidak mau dengan beragam alasan…”

Bagi penulis pemula, blocking mental seperti tembok baja yang sulit ditembus dan diruntuhkan. Sementara kadangkala lupa bahwa sujumlah pengetahuan dan keterampilan yang mendukung sesoorang untuk menjadi penuis handal telah dimillikinya. Mereka telah memiliki pengetahuan yang paripurna pada satu disiplin ilmu, dan bahkan mengungkapkannya secara oral juga sangat mumpuni.

Tidak ada waktu untuk menulis. Ini jadi alasan klasik bagi kebanyakan orang. Atau saya tidak tau mulai dari mana dan siapa yang akan membaca tulisan saya.

Ini terkait dengan blocking mental penulis pemula. kecenderungan ini sangat negatif, dan bahkan kadang kala dianggap sebagai penghalang seseorang untuk mencapai kesuksesan. Semua hanya dalam bentuk perasaan yang sebenarnya akan mengikis confidence seseorang. Kondisi ini juga akan menyebabkan seseorang cenderung berpasrah diri, menerima kondisi apa adanya dan bahkan parahnya lagi menyebabkan seseorang menjadi stagnan dan tidak dapat berkembang.

Saya tidak bisa, mana ada saya bisa menulis, saya tidak pernah punya pengalaman, saya tidak tau memulai dari mana. Ini sebenarnya ragam bentuk ungkapan seseorang jika diminta untuk menyampaikan idenya dalam bentuk tulisan.

Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menyiasati blocking mentals ini.

Jika seseorang selalu mengatakan “saya tidak bisa menulis karena saya tidak tau mulai dari mana”. Kebanyakan penulis mengarahkan pikirannya untuk menjawab: “bagaimana saya tau mulai dari mana, jika saya tidak pernah mencobanya”. Bukankan menulis itu tidak harus prosesnya terstruktur dari paragraf pertama dan seterusnya. Bahkan harus ditanamkan bahwa penulis hebat itu, punya banyak kesempatan untuk mengedit dan membaca berulang-ulang tulisannya.

“Saya tidak memililki kosa kata yang banyak sehingga diksi saya amburadul”. Ini juga hasil pikiran seseorang saat ditantang untuk menulis. Meskipun masalah ini pengusaan kosa kata dialami oleh seseorang, tetapi menutupi kekurangan ini haruslah dengan membaca. “Jangan pernah bermimpi jadi penulis jika tidak membaca” menjadi motto wajib pagi penulis handal. Jika seseorang rajin membaca, maka ide dan gagasan akan semakin kaya, artinya seseorang akan semakin banyak bahan untuk dituliskan.

Kondisi ini sebenarnya tidak lebih dari rasa takut yang muncul, yang justru menjadikan seseorang menjauhi rasa takut, bukan menghadapinya.

Menulis kata Pramudya Ananta Toer: “Adalah sebuah keberanian”.

Leave a Reply