Cara Rekonstruksi Teory pada Tinjauan Pustaka

Penulisan artikel ilmiah dalam bentuk jurnal atau dalam bentuk penelitian sering terkendala pada bagian tinjauan pustaka. Pada bagian ini, sebenarnya yang dilakukan adalah merekonstruksi teori yang mengarah pada fokus atau tema besar sebuah penelitian. Kebanyakan pada bagian tinjauan pustaka sering kita jumpai hanya dalam bentuk susunan definisi atau susunan teori yang dikutif dari berbagai sumber.

Beberapa yang menjadi kelemahan dalam penulisan bagian tinjauan pustaka atau kajian pustaka yang sering dijumpai adalah:

  1. Kelemahan dalam parafrase teori. Semestinya yang harus di perhatikan adalah parafrase dari kutipan teori yang telah diidentifikasi yang mendukung tema besar penelitian (variabel). Kemampuan penulis dalam membuat parafrase dari kutipan teori sangat dibutuhkan selain untuk mendeskripsikan makna sesungguhnya dari teori secara renik, juga sekaligus menjadi dasar untuk melakukan kodifikasi, korelasi atau membangun hubungan dengan teori lain.
  2. Sistematika sajian kajian pustaka yang tidak runtut. Menyajikan urutan teori pada laporan penelitian ilmiah harus menganut satu pola tertentu dan tetap menjaga konsistensi dari urutan pola kajian tersebut. Pola paling sederhana dan lumrah adalah dengan membangun konstruksi teori dari Grand Theory, Midle Theory dan Operational Theory. Kadangkala sajian pada tinjauan pustaka justru mengawali sajian dengan operational theroy atau bahkan dengan berawal dari midle theory. Hal ini, akan menyulitkan penuis dalam merumuskan kerangka pikir atau kerangka konseptual penelitian.
  3. Tidak jelas model konstruk teori yang dianut. Beberapa model konstruksi teori yang dapat digunakan seperti model Teori ilmu dua kutub yaitu hasil ekperimen dan prediksi logic, model hukum keeratura, model korespondensi, model koherensi, model pragmatis, model iluminasi dan model paradigma.
  4. Kajian pustaka tidak merumuskan hipotesis. Kadangkala karena ketidak jelasan konsep, yang dibangun dalam kajian pustaka akan menyulitkan perumusan proposisi, hipotesis, dan kesulitan mengidentifikasi indikator dari variabel yang diteliti pada saat merumuskan defenisi operasional variabel pada penelitian kuantitatif atau fokus penelitian pada penelitian kualitatif.

Ke-empat kelemahan tersebut sebenarnya muncul karena kadangkala penulis tidak menelusuri bagaimana prosedur konstruk teori dan tidak menelusuri bahasan-bahasan yang terkait dengan filsafat ilmu dan metode penelitian.

Secara praktis, dalam menyusun kajian pustaka, beberapa langkah yang dapat dilakukan adalah

  1. Identifikasi dasar-dasar teoritis dari beragam literatur ilmiah.
  2. Lakukan telaah terhadap hubungan antara teori yang telah dikumpulkan dengan fokus atau variabel penelitian
  3. Rumuskan proposisi (pernyataan) yang terkait dengan penelitian
  4. Kembangkan kerangka kerja konseptual atau kerangka pikir berdasarkan tinjauan literatur,
  5. Deskripsikan hubungan antara variabel dengan mendeskripsikan secara detail indikator setiap fokus atau variabel penelitian.
  6. Buat pola hubungan antar variabel dalam bentuk skematik
  7. Periksa kembali rumusan yang telah dibuat untuk mengenali dan menentukan model konstruk teory yang telah disusun agar dapat menjaga konsistensi model kontruk teory yang dibangun.
  8. Buatlah parafrase berdasaran gambar skematik yang telah disusun dalam urutan sub bab pada bagian tinjauan pustaka.

Dalam penulisan artikel pada jurnal ilmiah, biasanya sajian teoritiesnya dibahas pada bagian pendahuluan, sehingga parafrase dari teori yang digunakan lebih ringkas sehingga dibutuhkan kalimat efektif dalam bentuk pernyataan-pernyataan yang menggambarkan hubungan antara variabel yang akan diteliti.

Yang penting untuk diingat bahwa dalam menyajikan tinjauan pustaka atau kajian pustaka sedapat mungkin mendahulukan gambar skematik hubungan antara teori sebelum melakukan parafrase. Kebanyakan penulis menyajikan penjelasan teori terlebih dahulu sehingga sajian dalam bab tinajuan pustaka menjadi tidak runtut.

Leave a Reply