Jual Beli Jabatan di Lapak Online

Uaksena. 2019. Kembali masyarakat memperoleh tayangan membosankan, bukan lagi tayangan mengejutkan apalagi tayangan di berita media TV dan koran. OTT Petinggi Partai perihal jual beli jabatan. Jabatan yang diperdagangkan adalah Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama dan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kota. Luar biasa tetapi membosankan karena selalu dan selalu seputar korupsi yang berfaktor berbeda. Bosan mendengar dan melihat prilaku-prilaku oknum-oknum yang tak memiliki moralitas dan tanggung jawab kemanusiaan. Jual beli Jabatan. Seperti layakanya barang dagangan di pasar loak.

Jual beli jabatan yang pasti bukan bentuk transaksi perdagangan yang lumrah di masyarakat. Meski dalam sudut pandang teori ekonomi mungkin saja benar, karena ada keuntungan kedua belah pihak, dan ada obyek yang diperjual belikan., meskipun objeknya abstrak. Bisa jadi, jika hal ini dibiarkan maka tidak lama lagi akan tumbuh Toko-toko jabatan yang menawarkan beragam jabatan dengan harga yang bisa ditawar layaknya menawar harga sayuran

Atau bisa jadi muncul profesi baru, Pedagang keliling menawarkan jabatan kepada siapa saya yang mampu membeli. Bahkan karena pengaruh teknologi informasi, jabatan akan dijual secara online, yang siapa saja dapat memesannya pada pelapak online. Sungguh menjadi sebuah prestasi tertinggi yang diraih oleh sistem lelang jabatan yang telah “dirusak” oleh segelintir orang yang memiliki kekuasaan.

Ini hanya mencoba menganalogikan secara sederhana, bahwa jual beli jabatan dalam sudut pandang apapun sebenarnya tidak dapat dibenarkan. Lelang jabatan dalam konteksnya memang menjadi benar, dengan asumsi bahwa jabatan dapat diperoleh seseorang karena kompetensi dan persyaratan administratif yang dimilikinya sehingga layak memperoleh jabatan tersebut. Hal ini berarti alat tukar jabatan itu bukan uang, tetapi alat tukarnya adalah “kompotensi” yang dimiliki seseorang.

Entah hal apa yang menjadikan seseorang menukar uang dengan jabatan. Apakah berharap bahwa dengan jabatan dapat memperoleh kekayaan yang berlimpah, tanpa memperdulikan esensi dari amanah sebuah jabatan. Bisa jadi karena alat tukar yang digunakan dalam memperoleh dan mengusai jabatan itu adalah uang, menjadikan mereka ketika memperolehnya menjadikan alat ukurnya juga menggunakan uang. Melindungi, membela, membantu, bekerja, menolong, dan apapun yang dilakukannya semuanya karena uang.

Wallahuallam Bisshowwab.

Leave a Reply