Harapan yang tak pernah Mati

Tak perlu ragu pada satu persoalan, jika ada keyakinan dalam hati, mesti seberat biji zarrah. Ada banyak rintangan yang memang harus dilewati jika ingin memperolehnya. Dalam falsafah klasik “jangan berharap memperoleh ikan yang besar, jika menggunakan umpan yang kecil”. Tapi sepertinya pada banyak hal, kebanyakan kita melupakannya. Seorang pedagang, menjadi sangat mustahil memperoleh keuntungan yang besar jika menggunakan modal kecil. Semua butuh proses.

Tapi perlu di yakini sepenuhnya bahwa sebuah proses, pastilah “berawal” dan “berakhir”. Dan itu sebuah sunnatullah. Jika seseorang tidak memulainya maka sudah dipastikan tidak akan mencapai titik akhir yang akan membuahkan hasil. Sekecil apapun itu. Kebanyakan dari kita mengeluh dan merasa putus asa terhadap sebuah pekerjaan atau sebuah cita-cita. Sementara kita belum melakukan apa-apa bahkan belum memulainya.

Seberat apapun sebuah pekerjaan, sepanjang ada iktiar dan usaha, maka pasti akan berakhir pada keberhasilan. Jika engkau menyerah, berarti engkau telah menyatakan kekalahan, menghapus harapan dan hanya menunggu waktu untuk menggerusnya. Rela hati memang kadangkala diterjemahkan kurang tepat. Rela menerima kondisi apapun, berarti anda sangat dekat dengan kekalahan. REla menerima keadaan ini. Kalimat ini kadang-kadang menjadi senjata pamungkas yang dianggap lebih positif untuk menyatakan bahwa anda sedang mengalah dengan keadaan. Bukankah harapan itu tidak pernah habis, kecuali anda yang menutup rapat harapan itu. Jika harapan masih ada, sesuatu yang dianggap mustahil sekalipun bisa saja diwujudkan.

Apa yang membuat kita menyerah. Tidak banyak. Pertama Ajal. Ajallah yang memutus semua harapan. Sepanjang ajal seseorang belum tiba, maka sepanjang itu pula harapan akan terbuka. Sepanjang itu pula kita masih memiliki banyak peluang untuk mewujudkan harapan. Kedua. Ajal. Tidak ada yang bisa menghapus kesempatan untuk mewujudkan impian kecuali dengan ajal. Ajal menjadi penentu berakhirnya usaha dan iktiar manusia. Ajal yang menghapus semua harapan. Ketiga tetap ajal.

Optimislah, hingga nafas terakhir.

Leave a Reply