Politik. Memilih tak harus mencela

UAK. Tahun 2018 ini bukan hanya hujan dan angin yang menderu, tapi terpaan suasana politik yang perlahan mulai menebar iklim yang mendebarkan. Ketika mulai tahapan memilah milih calon yang akan didukung hingga penetapan calon yang diusung partai atau perseorangan, beberapa orang tiba-tiba menjadi sangat “khusyu” memilah-milah “kebajikan” dari calon yang diusungnya. Semoga ini sikap yang sama yang ditunjukkan¬†Bocah Firman, dengan kesetiaan penuh dan kukuh mengklaim kualitas Jalankote yang dijajakannya saban hari hingga malam di seputaran Kota Maros adalah jajanan termurah dan terenak.

Sepertinya memang lumrah, paling tidak dalam kacamata saya sebagai orang awam di dunia politik, bahwa “perubahan” tidak terlalu butuh banyak waktu. Dalam hitungan detik dan menit bahkan, semuanya bisa terbolak balik. Yah kalau mau menyebutnya antara mendukung dan menjadi lawan. Beberapa pekan lalu saja saya sempat senyum-senyum sendiri, atas promosi beberapa pendukung menjagokan bakal calon di sosial media. Terbilang sempurna. Tapi Pekan kemudian tiba-tiba saja berubah haluan. Ingin rasanya mencopy status itu, lalu membandingkan dengan status yang dibuatnya kemudian. Luar biasa. Perubahannya begitu cepat.

Pada medio pemilihan Presiden sepertinya pernah saya kemukakan bahwa salah satu yang mebuat saya bertanya-tanya, tentang lumrahnya menilai negatif orang atau kelompok tertentu hanya karena tak sehaluan pilihan dengan dirinya. Bukankah lebih bijak jika menjagokan pilihan tanpa harus merendahkan yang lainnya. Dalam dunia ini disebut sebagai “Black Campaign”. Yang sangat memiriskan kadang-kadang karena sudah menyinggung hal-hal yang sangat privacy. Seperti melupakan sisi kemanusiaan sang lawan. Sepertinya ini tidak terlalu arief untuk dibudayakan.

Ketika memilih dan menentukan pilihan, apakah memang selalu harus mencela yang lainnya?

Leave a Reply