Hikayat Kalbu 1

sesosok lelaki itu tanpa risih, menumpahkan air matanya
diselanya tangisan dengan ucapan-ucapan lirih, penanda suasana hatinya syahdu
mendengar kekasihnya tertawa lirih, bersama kekasih hatinya.

Lelaki selalu saja di identikkan dengan maskulin yang dipadankan dengan sikap yang tegas, garang, kokoh dan sebagainya. MEgawangi menafsirkan lelaki sebagai matahari yang selalu memancarkan ke-Angkuhan karena sinarnya yang terik. Lalu lelaki sarat dengan kekuasaan, menguasai, menindas tanpa ampun. Selalu lelaki berhadap-hadapan dengan doinasinya pada perempuan. Dan banyak lagi asumsi yang melekat pada lelaki.

Lebih sederhana lagi, lelaki identik dengan pemimpin, dalam segala lini. Ah. aku lalu teringat satu sifat jika lelaki terlalu identik dengan Egoisme. “Tak ada yang bisa kecuali lelaki”. DAlam agama yang kufahami, lelaki selalu saja menempati tingkat lebih tinggi dibanding jenis kelamin lainnya. Lihatlah Khalifah dan bahkan nabi semuanya dari lelaki. ini jugalah yang membuat kaum wanita merasa selalu terpojokkan oleh domnasi lelaki.

Ada hal yang membuatku berdecak kagum. Betapa dominasi lelaki itu menjadi satu bumerang yang dahsyat terhadap wanita. Menjadikan wanita bekerja super keras untuk meruntuhkan dominasi itu. Lalu bukankah dalam sejarah perjalanan kehidupan ini, wanita selalu berada diantara lelaki. Kadang disebutkan bahwa “tidak ada satu kesuksesanpun dari seorang lelaki jika tidak ada Wanita hebat dibelakangnya. Tapi toh lelaki tetap ingin mendominasi keberhasilan itu.

Bukankah kita selalu menyaksikan bagaimana seorang wanita yang selalu tergantung pada kekuasaan lelaki. Hidupnya tergantung dari uluran tangan lelaki. Lelaki lalu menista wanita dengan semena-mena. Dan wanita dengan sungguh-sungguh berjuang menikmati penistaan itu dengan caranya.

Bukankah kita selalu menyaksikan bagaimana seorang lelaki bertekuk lutut pada kelembutan wanita. Kehidupan lelaki tergantung pada wanitanya. Tapi aku sekalipun tak pernah menyaksikan, wanita melakukan penistaan pada lelaki karena ketergantungannya.

Ah. ternyata aku selalu sependapat jika lelaki tak lebih seperti Matahari dan Wanita seperti Bulan. Matahari karena teriknya menerangi tapi terkadang teriknya membakar kulit hingga aku sekali-kali perlu berteduh. Lalu Bulan meski sinarnya temaram tapi aku tak perlu berteduh karena cahayanya.

Lalu aku selalu ingin melihat matahari lebih teduh sinarnya di siang hari. Seperti lelaki itu yang karena kesedihannya meneteskan air mata.

uak, Mei 11

One Reply to “Hikayat Kalbu 1”

  1. wonderful site, very articulate. I like it in deed. I come acoss this writing by yahoo search engine. I will read your site weekly and recommend it to my pals. Please keep it fresh. Keep on the good work. – A techie

Leave a Reply