Menjadi Widyaiswara Kreatif

Featured

Sebagai tenaga pengajar, setiap widyaiswara perlu melakukan penyesuaian kompetensi yang dimilikinya dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya teknologi informasi dan komunikasi. Widyaiswara perlu membangun pembelajaran kreatif dengan mengintegrasikan teknologi informasi dalam pembelajarannya sehingga dapat menciptakan pengalaman-pengalaman belajar yang baru bagi peserta.

Memandu sebuah proses diklat penting untuk memperhatikan kebutuhan materi dan kesesuaian dengan cara mengajar dalam diklat. Weber (1992) telah memperingatkan lebih awal bahwa dalam pembelajaran kadangkala tidak sesuai cara membangun interaksi pembelajaran dengan kebutuhan materi itu sendiri. Bahwa perlu mendesain pembelajaran sedemikian rupa dan lebih kreatif dengan mempertimbangkan penyesuaian materi dengan proses serta kebutuhan peserta. Misalnya dalam proses umpan balik pembelajaran sudah perlu mengintegrasikan ICT agar tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu.

Oetarini (1992) menemukan banyak bukti bahwa umpan balik pembelajaran kadang kala tidak diperhatikan. Bisa saja kondisi ini karena keterbatasan waktu atau jam pelajaran yang tersedia untuk melakukan proses umpan balik selama dan setelah proses pembelajaran berlangsung. Karena pentingnya umpan balik tersebut, pengintegrasian ICT melalui e-learning misalnya, dapat memangkas batas-batas waktu yang tersedia. Oleh karena itu memang sudah saatnya Widyaiswara memiliki kemampuan dan keterampilan untuk merancang program pengajaran, menyusun dan melaksanakan strategi belajar mengajar, mengevaluasi dan menyempurnakan program pengajaran (Arikunto, 1992) yang mengintegrasikan pemanfaatan tools, device dan interface teknologi informasi.

Rancangan program pengajaran sangat penting dilakukan oleh widyaiswara mengingat fungsi rancangan program ini untuk memantapkan program belajar mengajar, mengetahui dengan segera tingkat keberhasilan proses belajar mangajar, meningkatkan keyakinan dan kegairahan peserta, menjamin tercapainya tujuan pembelajaran (Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar dan Indikator Diklat) dan mencapai keefektifan pengajaran. Akan tetapi fungsi-fungsi tersebut dapat dicapai bila Widyaiswara memiliki kreativitas untuk memadukan variabel yang mempengaruhi keefektifan pengajaran (Sastrawijaya, 1988), salah satunya dengan mengintegrasikan pemafaatan ICT.

Bagaimana menjadi Widyaiswara yang kreatif dalam pembelajaran? Higgins (1982), berasumsi bahwa individu-individu yang kreatif akan lebih mampu menjalankan tugas dan fungsinya secara baik dalam lingkungannya. Oleh karena itu salah satu jalan yang dapat dilakuan oleh widyaiswara menjadi kreatif adalah dengan melakukan penyesuaian dalam bentuk technology adapted dengan mengitegrasikan teknologi dalam pembelajaran. Bagaimanapun teknologi memiliki fitur baru yang dapat mendukung efektivitas pembelajaran. Melaui adopsi teknologi dalm pembelajaran pada diklat merupakan tahapan awal dari proses membangun keterampilan dan kreativitas widyaiswara. Pandangan ini telah dikemukakan Anderson (1980) bahwa seseorang yang kreatif, harus memiliki kepribadian yang tinggi, terbuka terhadap pengalaman baru (intlektual tinggi) dan memiliki motivasi yang tinggi.

Terbuka pada pengalaman baru memang membutuhkan usaha dan motivasi untuk memenuhi kompetensi tertentu agar terjadi proses adopted, adaptation and implementation hal-hal baru kedalam pembelajaran. Akhirnya Widyaiwara kreatif berciri sosok yang menciptakan ide-ide yang baru, mempunyai keinginan untuk mencoba ide baru tersebut dan mengevaluasi hasil-hasil yang telah di capai untuk menjadi bahan evaluasi untuk proses selanjutnya.

Wallahuallam

Leave a Reply