Sabotase

Narasi dalam dunia tulis menulis memang kadangkala menyulitkan bukan hanya pada siapa dimaksudkan atau ditujukan tetapi juga pada personal yang memilih narasi yang akan disampaikan dalam bentuk tata tulis atau kalimat.

Dalam era teknologi sekarang narasi sangat besar pengaruhnya terhadap pembentukan cara berpikir pembacanya, dan sekaligus menjadi cerminan pribadi siapa yang menarasikannya. Hal ini tentu dipengaruhi oleh keterampilan memilih diksi dan atau dipengaruhi oleh sikap seseorang terhadap sesuatu.

Diksi merupakan merupakan pilihan kata seseorang dengan maksud untuk memudahkan orang dalam menangkap ide atau gagasan yang disampaikannya dengan tetap menjaga keselarasan kata dengan makna yang dimaksudkannya. Kadangkala pemilihan kata seseorang dengan maksud untuk menyampaikan maksudnya sangat berlebihan, bukan karena bermaksud melebih lebihkan, tetapi lebih karena kedangkalan pemahaman terhadap kosa kata yang dimilikinya. Juga turut dipengaruhi oleh ketidak mampuan memahami makna kata atau istilah dengan keselarasan maksud yang ingin disampaikannya.

Misalnya saja kata sabotase dalam terminologinya (lihat Wikipedia) bermakna tindakan perusakan yang dilakukan secara terencana, disengaja dan tersembunyi terhadap peralatan, personel dan aktivitas dari bidang sasaran yang ingin dihancurkan yang berada di tengah-tengah masyarakat, kehancuran harus menimbulkan efek psikologis yang besar.

Kata ini sangat berbahaya jika tidak digunakan secara tepat, meskipun hanya dengan maksud untuk menganalogikan pandangannya terhadap sebuah prilaku seseorang yang dalam pandangannya berpengaruh pada dirinya secara ekstrim. Kadangkala penggunaannya seperti “Si A telah menyabotase saya”. Pada kalimat ini penggunaan sabotase dimaksudkan “menghalangi seseorang untuk memperoleh sesuatu, meskipun dalam makna sebenarnya berarti Si A telah membuat segala sesuatu yang terkait dengan orang lain telah dihancurkan hingga berkeping-keping dan bahkan menimbulkan efek psikologis yang berkepanjangan.

Hemat saya, ini adalah diksi yang melampau batas etis dalam sudut pandang apapun. Sehingga menjadi sangat mungkin akan berakibat hancurnya sebuah hubungan silaturrahim dan bahkan akan mengerucut pada konflik kekerasan. Hal sekecil ini sepertinya sudah perlu segera dihindari apalagi jika kita semua berada pada kondisi-kondisi yang labil. Bukan tidak mungkin hal ini akan berujung pada perseteruanyang berkepanjangan apalagi diera digital sekarang.

Oleh karena itu, perlu kearifan dalam membuat narasi khususnya narasi media digital agar tidak berujung pada pencemaran nama baik, penghinaan dan menjadi potensi kekerasan.

Wallahuallam Bisshowwab

Leave a Reply