Menjaga Cinta dengan Cara Manusiawi

cinta

Bagaimana menjaga cinta dengan cara manusiawi?. Benarkah jika Seorang lelaki dengan kumis melintang menambah garang penampilannya sedang jatuh cinta. Pertanyaan pertama terjawab sudah bahwa “Benarkan Tampang garang menjadikan seseorang tak punya rasa “lembut”?. Ternyata tidak bukan, bahwa setiap manusia pastilah telah berbekal rasa Cinta (baca: habba). ini adalah kodrat kemanusiaan yancintag dimiliki setiap makhluk bernama manusia. Bahwa Rasa cinta yang dimiliki setiap manusia mengarah pada kecintaan pada materi, wanita atau lelaki pekerjaan, dan apapun yang sesungguhnya menjadi kebutuhan dasar manusia dalam hidupnya. Tentulah tidak ada satupun manusia yang mampu hidup tanpa memiliki rasa cinta. Akan tetapi apakah semua orang mampu menanamkan cinta hingga mampu menjadikannya tegar dan bertahan sekuat karang. Ataukan justru cintalah yang membuatnya menjadi lemah dan kemudian berputus asa.

Semestinya tidak. Adakah sesuatu di dunia ini akan terwujud tanpa ada selimut cinta yang menyertainya. “Mungkin” saja ada, akan tetapi akan berujung pada penderitaan. Jiwa dan raga menjadi rapuh dan bahkan dapat menjadikan seseorang lupa akan kodrat kemanusiaanya. Kadang seorang lelaki tegap dan garang harus “meneteskan airmata” (meski sembunyi-sembunyi) hanya karena cinta yang tak berjalan sesuai keinginannya. “Mengapa mesti mempertaruhkan harga diri hanya karena cinta seorang wanita?” Pertanyaan ini perlu mendapat jawaban bagi seorang lelaki. Karena cintanya pada seorang wanita, seorang lelaki mampu “menghinakan diri” di depan seorang wanita.

Lalu dapatkah cinta bertahan tanpa ada yang menjaganya. Jawabannya tentu Tidak. Tidak ada cinta yang abadi tanpa terjaga dengan baik. cinta Manusia kepada Tuhan saja perlu dijaga dengan senantiasa beribadah kepada-Nya. Lalu Tuhan akan “menjaga” cintanya kepada makhluknya. Tapi akankah cinta manusia abadi tanpa terjaga dengan baik oleh kedua belah pihak. Mustahil terwujud…! Cinta haruslah terjaga dengan cara-cara “manusiawi”. Menjaga cinta dengan cara manusiawi tak boleh lepas dari kodrat kemanusiaan yang punya rasa, hati, dan pikiran.

Wallahuaa’lam bisshowwab.

Leave a Reply