Peristiwa Berulang

Thasa bin Upe hari ini telat bangun. Tergopoh-gopoh dia berwudhu, kemudian melaksakana sholat shubuh 2 rokaat. Setengah jam kemudian Thasa sudah terlihat rapi dengan Celana Jeans berwarna hitam dipadu dengan kaos oblong warna merah maroon. Setelah Thasa duduk di serambi rumahnya, dia baru sadar jika di luar susana mendung. Matahari tak tampak bersinar.

Thasa tiba-tiba dihantui perasaan aneh. “Apakah pagi tadi ketika saya masih tertidur Matahari benar-benar terbit” Gumam Thasa. Ah… pastilah matahari itu terbit, tidak mungkin tidak. gumamnya lagi. Tapi kenapa aku bisa meyakini kalau matahari tadi pagi terbit padahal aku tak melihatnya. Pertanyaan beruntun berkecamuk dikepala Thasa.

Thasa menghampiri ibunya yang sedang memasak di dapur. Bu..! Tadi pagi ibu melihat matahari terbit dak?. Tanya THasa pada ibunya. Pertanyaan yang sama juga ditanyakan pada ayahnya dan seisi rumah. Dan Thasa mendapat jawaban sama. “Iyya… Matahari Terbit Tadi Pagi”.

Mengapa semua orang yakin jika matahari terbit meski mereka tak melihatnya. Apa yang mendasari keyakinan mereka. Thasa duduk termenung memikirkan jawaban semua pertanyaanya. “Jika matahari terbit tadi pagi benar, itu tidaklah menjadi soal. Persoalan yang pelik adalah “mengapa aku begitu yakinnya bahwa matahari terbit tadi padi” Jika kemarin aku yakin matahari terbit, karena memang aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, aku merasakan sengatannya, melihat cahayanya, sementara sekarang, cahaya matahari tidak kuilhat, terbitnyapunn tak kulihat, apalagi sengatannya sama sekali tidak kurasakan. Tapi mengapa aku yakin.

Oh.. mungkin sama dengan bulan yang tidak pernah kulihat terbenam, tetapi kuyakini bahwa bulan terbenam kala matahari terbit di pagi hari. Atau mungkin sama dengan keyakinanku bahwa aku memiliki “ruh” meski mata telanjangku tak pernah meihatnya. Atau mungkin sama yakinku ketika ayam di dinihari hari berkokok lantang berati fajar telah menyingsing dan shubuh hari telah menjelang.

Atau bisa jadi sama.. ketika sangat kuyakini keberadaan Tuhan. meski secara kasat mata Aku tak pernah melihat-Nya.

Tapi sungguh aku tersadar, “jika aku selalu mendapati sesuatu terjadi berulang dengan peristiwa yang sama, maka aku meyakini akibat yang ditimbulaknnya akan sama pula.

ah.. aku masih bingung.

Leave a Reply