Sama atau Beda

Thasa Bin Upe, pagi-pagi buta sudah bangun. Setelah mandi dan berpakaian rapi Thasa lalu dengan santainya duduk di meja makan menikmati segelas susu hangat yang dibuatkan ibunya. Sementara di depannya duduk ayahnya yang juga siap-siap kekantor yang juga asyik menikmati secangkir kopi.

Tiba-tiba thasa mengerutkan dahinya sambil memperhatikan gelas dan cangkir yang ada di meja makan. timbul pertanyaan dalam benaknya. Yang membedakan “Cangkir” dan “gelas” selain bentuknya, juga volume dan warnanya. Tapi apakah “cangkir” dan “gelas” ini tidak memiliki persamaan. Kedua-duanya kan “digunakan” untuk minum. Tapi mengapa selalu di sebutkan jika gelas dan cangkir itu berbeda, sementara kedua-duanya memiliki “unsur” yang sama.

Thasa lalu mengalihkan pandangannya ke “Piring” yang ada di hadapannya. Piirng ini memang jelas berbeda dengan “cangkir” dan “Gelas”. Tapi apakah piring ini sama sekali berbeda dengan gelas dan cangkir. Bukankah bahan dasar dari “piring” sama dengan bahan dari “Gelas” dan “cangkir”. Semuanya dari bahan “pecah belah”. Lalu kalau karena “unsur” pembangunnya sama, mengapa menghasilkan “fungsi” yang “berbeda”. Jika demikian, apa sesungguhnya yang menjadikan sesuatu itu “sama” atau “berbeda”.

Thasa teringat petuah Ustadz di Masjid, bahwa “Semua Manusia itu Sama di hadapan Tuhan, Tergantung Amal kebajikan”. Semua manusia “sama”, karena “unsur” asalinya “sama”. Berarti Cangkir, Gelas, Piring itu “sama” karena unsur asalinya “sama”. Manusia berbeda tergantung amal kebajikannya, berarti “Gelas, Cangkir dan Piring” itu “berbeda” tergantung fungsinya.

Thasa menghela nafas panjang, sambil beranjak dari kursinya sambil nyelutuk, “Pak, Ternyata saya ini sama saja dengan cangkir Kopinya Bapak!

Leave a Reply