Refleksi Ramadhan 1433 H

Refleksi Ramadhan 1433 H, refleksi, ramadhan
Refleksi Ramadhan 1433 H, refleksi, ramadhan

Refleksi Ramadhan 1433 H. Ramadhan tak seperti dulu lagi. Nuansa syahdunya sepertinya tak membumi lagi. Bulan penuh selama 30 hari dilewatkan begitu saja, seperti layaknya hari-hari  lainnya. Kekhusyukan-kskhusukan hati menjalaninya hingga menjadi berbeda dengan bulan lainnya memang perlahan tak terasa lagi. Semuanya seakan menjadi hari-hari biasa saja. Memang Karena Bulan Ramadhan tidak kemudian menjadikan aktivitas setiap orang akan dikurangi. Akan tetapi seyogyanya ada nuansa lebih yang mencerminkan kedekatan dan ketaatan kepada Sang Maha Besar Allah swt. Tidak ada lagi ramai di surai musholla dan masjid lantunan ayat suci al-Qur’an. Tidak lagi Ramai didengungkan asma Allah melalui Rumah-rumah umat Islam. Tidak lagi ada ramai pembagian Ta’jil dari si kaya kepada si papa. Bahkan Entah apakah kewajiban Zakat tetap tertunaikan.

Dunia Entertainment dan Ramadhan

Memang Ramdhan seperti hanya menjadi miliki dunia Entertainment. Di Radio dan TV penuh dengan sajian simbolistik Islam dan Ramadhan. Ceramah, Diskusi Islam, Sinetron Islam bahkan Film dan Quiz Islam. Penuh sesak acara mengisi seluruh rentang waktu hingga berbuka dan bahkan menunggu waktu sahur. Tapi sekali lagi semua menjadi simbolistik semata. Ruh “Ibadah” yang harusnya tetap terjaga seakan ternafikan begitu saja. Memang Tak salah mengejar Rating Bagi MEdia. akan tetapi menjadi salah jika tak sama sekali dapat menanamkan dalam kalbu masing-masing umat Islam dari sajian tersebut. Semuanya lepas begitu saja, dan mendudukkannya tidak sebagai wejangan tetapi lebih sebagai sebuah hiburan sementara bagi hati-hati para pengikut Islam.

Jika saja ingin menilai lebih jauh, bahwa karena sajian tersbeut membawa anugrah terhadap pencerahan hati. Lalu mengapa dalam lubuk hati yang dalam selalu menganggap Ramadhan Tak seperti dulu Lagi. Hal ini berarti bahwa ada hal yang memang telah hilang. Jika kajiannya lebih dalam lagi sebenarnya semuanya sudah perlahan-lahan lari dari nuansa filisofisnya. Bahwa seluruh aktivitas orang berpuasa harus tetap diorientasikan pada nilai-nilai ibadah. Dan bahwa semua aktivitas itu dapat mengantarkan seseorang untuk meraih pencerahan hati.

Ramadhan dan Hari Raya

Belum lagi menyambut hari Raya Iedul Fitri. Kumandang Tahmid, Tahlil terkalahkan oleh suara-suara ledakan petasan, suara kendaraan roda dua yang memekakakkan telinga, memenuhi jalan-jalan dan seluruh pelosok negeri. Inikan hasil dari sebuah proses ibadah sebulan penuh. Tidakkan Ramadhan mengajarkan kita untuk menjenguk saudara kita yang lagi papa, yang sakit yang menderita. Tidakkan Ramdhan mengajarkan kita untuk mentahanusskan hati. Tidakkan Ramadhan mengajarkan kita untuk memanfaatkan sesuatu dengan lebih baik. Tidakkan Ramadhan mengajarkan kita untuk lebih sederhana dan berhemat. TErlalau banyak Ramadhan mengajarkan kita hal-hal positif, tapi dengan serta merta raib begitusaja di saat kita akan merayakan kemenangan kita.

Benarlah jika memang Ramadhan Tak sama lagi. Ramadhan tetaplah akan pergi meninggalkan kita dengan rasa sedih. Bukan lagi Kita yang sedih ditinggal Ramadhan. Ramadhan pergi karena tak kuasa menanamkan nilai-nilai ajarannya pada kita. Sementara Ramdhan dengan sungguh-sungguh mengajari kita. Ah.. ini hanya sebuah refleksi atas Ramadhan yang terlewatkan begitu saja. Refleksi Ramadhan 1433 H

 

 

Leave a Reply