RSUD Salewangan menuai sorotan

Pelayanan publik RSUD Salewangan Maros menjadi sorotan karena Dokter yang bertugas tidak berada di tempat. Perlu merubah paradigma pelayanan agar tak menuai protes masyarakat.

Seorang pasien rumah sakit umum Salewangan mengeluhkan pelayanan yang diperoleh pada tangal 4 April 2017. Pasien yang juga seorang wartawan dan penggiat media sosial Imam Zulkifli menyatakan di akunnya bahwa Dokter yang bertugas tidak ada sehingga tak bisa memeriksakan diri pada hari itu.

Meskipun keterangan ini dibantah setelah dikonfirmasi ke bagian humas RSUD Salewangan Sitti Rahmawati.S.Kep.Ns.,M.kes (Arus Berita.com)

Terlepas dari situasi tersebut, pelayanan di Rumah Sakit dari sejak jaman dahulu kala selalu tidak melahirkan kepuasan. Justifikasi terhadap panjangnya rentang birokrasi yang digunakan, prosedur dan SOP pelayanan yang berbelit-belit, ditambah dengan jumlah tenaga medis yang terbatas selalu menjadi akar masalah pelayanan di institusi pemerintah yang satu ini.

Persoalan ini juga pernah di sampaikan Anggota DPRD Sulsel dari Partai Amanat Nasional, Irfan Ab, saat memeiliki pengalaman di Rumah Sakit yang menemukan adanya pasien yang tidak dilayani segera sementara kondisi pasien sudah sangat menghawatirkan.

Beberapa bentuk pembelaan pihak rumah sakit kadang cukup ampuh seperti dokter tidak ada, dokter lagi memerikasa pasien di ruang rawat inap, jumlah dokter tidak seimbang dengan jumlah pasien, sarana dan perlengkapan tidak mencukupi, ruang inap tidak cukup, hingga ambulance yang digunakan bukan untuk mayat.

Kuncinya terletak pada stakeholders. Setiap kondisi yang terjadi bukan karena kesalahan satu orang. Kecuali untuk kasus tertentu, misalnya karena banyakanya pasien hingga harus antri berjam-jam tentu bukan semata-mata menjadi kesalahan dokternya.

Mari membuka mata untuk kasus ini. Bahwa rumah sakit berhubungan dengan kesehatan. Berhubungan dengan iktiar yang berdampak pada umur seseorang. Hidup atau Mati. Sepertinya semua orang yang terkait tidak boleh main-main.

Jika tidak ada niatan untuk merubahnya, akan semakin banyak pasien seperti Imam Zulkifli yang ke Pasar tradisional mencari bahan obat herbal yang diraciknya sendiri.

Leave a Reply