Sekolah Unggulan atau di Unggulkan

Apa yang unggul? Pertanyaan mendasar yang kadang kala kebanyakan orang tidak memiliki jawaban seragam. Subjektif bahkan kadang kadang menjadi jawaban yang paling familiar. Bayaran tinggi hingga berjuta-juta, fasilitas mewah, guru dan tenaga pendidik dengan seabrek gelar atau karena memenuhi 8 SNP yang ditetapkan BSNP.

Lahirlah sekolah uggulan, meski tak serta merta melahirkan sekolah dengan label Tidak atau bukan Unggulan. Lalu pertanyaannya kembali lagi “Apa yang unggul”. Tentu disini kita bersepakat bahwa keunggulan bukan pada tingginya peminat, mahalnya biaya, tempat yang mewah dan seterusnya. Meskipun kadangkala ini juga menjadi bahagian kecil dari prasyarat unggul.

Indikator penjaminan mutu pendidikan selama ini didasarkan pada pemenuhan standar isi, proses, kompetensi lulusan, pengelolaan, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pembiayaan, dan standar penilaian. Kedelapan standar tersebut harus dipenuhi oleh lembaga pendidikan untuk memenuhi kualifikasi standar minimal kelayakan penyelenggaraan pendidikan. Akan tetapi kadangkala hal ini tidak dibarengi dengan penciptaan budaya mutu di dalamnya sehingga menjadi sangat jauh dari kesempurnaan sebuah sekolah dengan kualifikasi unggul. Penyebabnya lebih karena pemenuhan tersebut berbasis dokumen yang kadangkala berseberangan dengan realitasnya.

Bagaimana dengan sekolah Muhammadiyah?

Ada baiknya kita kembalikan pada satu fokus pertama dan utama. Lembaga pendidikan harus mampu melahirkan generasi Rabbani. Artinya ada tiga hal yang mesti dijadikan kriteria keunggulan sekolah. Masukan, Proses dan Output. Lembaga pendidikan formal Muhammadiyah tetap berorientasi pada pencapaian Khittah Perjuangan Muhammadiyah. Ini menjadi core value dati keseluruhan rangkaian proses pengelolaan lembaga pendidikan di lingkungan muhammadiyah.

Merujuk pada pradigma baru pendidikan dimana ada usaha mengembalikan prinsip “proses oriented” didudukkan pada proporsinya. Ini disepakati menjadi kunci mutu sekolah. Penciptaan habits unggul misalnya, kadangkala jadi buram dan temaram. Lembaga pendidikan menjadi sebua Mesin yang bekerja secara otomatis tanpa memiliki alternatif cadangan. Ini kemudian di jadikan sebagai biang kerok lahirnya generasi “penghancur”. Melahirkan koruptor, pemimpin yang menindas, orang tua yang menjadikan dunia segala galanya hingga menelantarkan anak. Bagaimanapun, ukuran mutu buka semata mata pada hasil tetapi juga pada prosesnya. Falsafah “hasil tak pernah menghianati proses” menjadi sangat kuat menjadi penentu keberhasilan dan keunggulan.

Bagaimana dengan Muhammadiyah. Benarkah lembaga pendidikannya tidak Unggul. Ada guru dengan keterbatasan ekonominya tetapi gigih menyebarkan cara pandang muhammadiyah terhadap kehidupan. Ada petani yang saban hari sepulang sekolah mengajari anaknya bacaan sholat berdasarkan putusan tarjih muhammadiyah. Bahkan ada alumni Sekolah Muhammadiyah yang mendirikan lembaga pendidikan untuk menyebarkan fahama al-Islam Kemuhammadiyahan.

Sekolah Muhammadiyah memang tak berjudul sekolah Unggulan Muhammadiyah, tidak berbayar mahal, tidak berdiri mewah bangunannya tapi dipenuhi proses pembelajaran yang menyiapkan anak anaknya meraih masa depannya. Sekolah muhammadiyah bukan menciptakan siswa pemenang olimpiade, juara nyanyi, juara lomba apa saja.

Sekolah Muhammadiyah unggul dalam menyebarkan faham Agama. Sekolah muhammadiyah unggul bukan diunggulkan.

Artinya bahwa ukuran keunggulan bukan semata mata pada indikator keberhasilan yang berlaku umum di masyarakat. Keluaran sekolah dalam hal ini “kader” dalam lingkup muhammadiyah tidak harus memiliki aktualisasi diri yang sama di masyarakat. Tidak harus menjadi pejabat tinggi, penguasa, dan konglomerat. Keunggulan ditandai dengan seberapa banyak aktialisasi diri kader mebumikan manfaat sebanyak banyaknya untuk masyarakat dan untuk persyarikatan.

Jadi Unggul itu apa?

Sepertinya perlu redefenisi ulang untuk urusan ini. Sekolah unggul adalah sekolah yang mencetak Kader militan paham dan taat agama, memiliki jiwa dan karakter mumpuni yang tak berseberangan dengan al-quran dan Hadits dalam setiap bentuk aktualisasi dirinya di masyarakat dan bangsa.

Seorang ayah pernah berkata: “Nak kamu tak perlu juara kelas, ayah tak kuat menahan haru jika kamu juara, tapi aku lebih tak kuat lagi jika menanggung malu engaku kelak berpendidikanntinggi tapi hanya mendatangkan manfaat untuk dirimu.

Save to Muhammadiyah Schools

Refleksi Seminar Pendidikan Alumni FAI Unismuh Makassar 21 Maret 2018

Leave a Reply