Tabe

Tabe’ salah satu perbendaharaan kata dari bahasa Bugis yang tidak asing bagi kita. Tabe’ kira2 bermakna permisi dalam bahasa Indonesia. TApi sesungguhnya padanan itu tidaklah mewakili secara kesuluruhan kata “tabe'”. Hal ini karena dalam penggunaannya lebih ditonjolkan bukan pada intonasinya yang bermakna permisi, tapi lebih kepada makna sakral dari tabe itu sendiri. Penggunaan kata ini biasa dilakukan ketika seseorang yang lebih muda akan meminta ijin kepada orang lebih tua, seorang anak kepada orang tua dan seterusnya. Misalnya, Tabe’ puang jokka rioloi atatta. (permisi, saya berangkat lebih dulu). Disini penggunaan tabe’ lebih cenderung pada ungkapan permohonan izin kepada orang yang lebih dituakan.

Mappatabe, adalah kata turunan yang memperoleh awalan Mappa menjadi kata sifat. Mappatabe adalah minta ijin kepada seseorang yang juga lebih dihargai. Misalnya seseorang yang ingin melakukan sesuatu diminta untuk “mappatabe pada orang tertentu. Cikal misalnya ingin menjadi presiden tentu harus mappatabe sama Enal.

Tabe dii…. adalah kata yang diplesetkan oleh anak muda, biasanya lebih berkonotasi guyonan untuk menyatakan atau mengungkapkan permohonan secara hormat tapi dengan nada guyon. Misalnya: Tabe dii…. ubettaikki mitai ro cewe’e. Maaf yah gue yang duluan nembak tu cewe.

Tapi kata tabe yang digunakan sudah mengalami polarissi makna, karena penggunaannya sudah tidak pada tempatnya. Tabe dalam makna sesungguhnya sudah jarang digunakan. Padahal kata tabe sesungguhnya merupakan bagian dari unsur pembinaan akhlaq orang tua terhadap anaknya. bahwa seorang yang lebih tua, harus dihargai oleh yang lebih muda.
masihka itu ada? Wallahu ‘allam bi ssawab

Leave a Reply