Benarkah pertanda kehancuran Islam di Indonesia

Di penghujung ramadhan semua orang memiliki kesibukan masing-masing. Ada yang masih dengan gigih melaksanakan rutinitas kesehariannya, ada yang tetap bersikukuh pada ketaatan menjalankan sunnah dan perintah wajib dan ada pula yang sepertinya tak berbeda antara bulan ramadhan dengan sebelas bulan lainnya. Maaf saja saudaraku semua yang seiman dan sekeyakinan. Ramadhan memang berbeda, dan begitu banyak rupa-rupa godaan yang menghadang. Bukankah memang sudah disampaikan bahwa Ramadhan ini adalah bulan di mana salah satu iabdah wajib kita adalah menjadi urusan kita secara personal dengan Tuhan. Tak ada yang kuasa mengetahuinya kecuali kita dengan Tuhan.

Jika kita sedang berpuasa, maka yang paling faham tentang kualitas puasa kita adalah Kita dan Tuhan sendiri. Semuanya tak nyata secara lahiriah dan berbeda dengan ibadah lainnya. Jika kita sedang sholat, maka siapapun dapat menyaksikan kita menjalankannya. Tetapi puasa?. Siapa yang tau jika kita telah membatalkannya. Meskipun anehnya, masih banyak di antara kita yang muslim sementara tidak berpuasa tetapi tidak menyembunyikannya. Mereka bagi segolongan orang merasa bangga jika tidak sedang berpuasa. Naudzubillahi min Dzalik.

Tahukah kita, bahwa sejak 1 Ramadhan, begitu banyak berita bermunculan sebagai bagian dari pernak pernik Ramdhan. Mulai dari pekan pertama issu “Hormati yang berpuasa“, lalu “Larangan membuka warung Makan di Siang Hari”, sampai pada “Diskursus Perda Syariat Islam” yang dihapuskan oleh pemerintah, yang kemudian berimbas pada “Bully bagi penegak perda”. Luar biasa rangkaian peristiwa ini. Akan tetapi perlu diingat, bahwa semua itu adalah bahagian dari ujian kita selama Ramdhan. Beragam respon atas peristiwa itu.

Kelompok masyarakat lain menganggap bahwa hal ini bersinggungan secara “Keras” dengan “Toleransi antar umat beragama”. Tetapi tidak juga sepenuhnya benar. Toh jika kita ingin dihargai sebagai orang yang berpuasa dari golongan Agama yang tidak menjadi kewajiban atasnya, maka tidak menjadikan kita Muslim “Memaksakan” kehendak agar mereka juga tidak makan dan minum di siang hari Ramadhan. Yang perlu dipersoalkan jika yang tidak berpuasa itu adalah orang Muslim dan dengan terang-terangan menampakkan bahwa dia sedang tidak berpuasa. Sekalipun muslim tersebut tidak sedang kena kewajiban atasnya berpuasa.

Nampak pada satu sisi, bahwa masih ada celah di mana kita masih perlu membenahi puasa kita. Perlu ada cara yang lebih hikmah, dan lebih elegan untuk merespon semua peristiwa tersebut. Ada kekhawatiran kondisi ini menjadi cikal bakal hancurnya Islam di Indonesia, seperti Cordoba waktu itu, dimana Islam hilang tak berbekas. Sementara hal tersebut menurut hemat saya terlalu berlebihan. Sepanjang Sholat Ditegakkan, Iman ditinggikan, dijauhkan dari perilaku Syirik, agama disebarkan dengan Damai,  maka mustahil islam akan raib dari Indoensia. Jika al-Qur’an masih terbaca, kitab hadis masih di kaji mendalam, Ceramah agama masih jalan, dan masjid-masjid tetap didirikan dan dimakmurkan, selama itu pula Islam masih tetap abadi.

Wallahuallam bisshowwab

Leave a Reply