Pemimpin atau penguasa

pemimpin atau penguasa
pemimpin atau penguasa

Kepemimpinan bukan lagi bagaimana pemimpin dan pengikutnya saling mempengaruhi satu sama lain sepanjang waktu, tetapi bagaimana pemimpin dapat mempertahankan kekuasaannya.

Kepemimpinan, menjadi bagian penting dari sebuah organisasi. Model dan gayamemimpin seseorang sanag ditentukan oleh lingkungan organisasi dimana seseorang memimpin. Ada pemimpin yang lahir sebenarnya dari bentukan lingkungan organisasinya. Ada juga pemimpin yang menggiring model dan gaya pribadinya memimpin dan mempengaruhi organisasinya.

Tidak ada kepemimpinan yang paling tepat kecuali pada masa jamannya sendiri.

Lahirnya Hitler, Muamar Khaddafi, Soekarno, Xanana Gusmao, dan banyak lagi pemimpin melahirkan dan membentuk gayanya sendiri. Akan tetapi kecenderungan ini mengarah pada  perkembangan gaya kepemimpinan yang disuguhkanbukan berusaha mengayomi dan mencapai tujuan organisasi semata, tetapi telah ada kecenderungan gaya kepemimpinan dibangun untuk mempertahankan kekuasaan. Ini sangat dekat dengan Tirani. Sehingga sangat sulit untuk mencoba mendeskripsikan apakah yang ada sekarang pemimpin atau penguasa. Dalam konteks ini ada dikotomi yang sangat jauh antara pemimpin dan penguasa.

Pemimpin dan penguasa sangat berbeda

Untuk mengklasifikasi teori dan penelitian kepemimpinan dapat dilakukan dengan cara memahami level analisisnya (Lussier dan Achua, 2001: 14). Level analisis teori kepemimpinan minimal terdiri dari empat, yakni individu, kelompok, organisasi dan masyarakat. Pada Level individu misalnya, berfokus pada pada individu pemimpin serta  hubungannya dengan individu lain (pengikutnya). Asumsi yang dianut ialah efektivitas kepemimpinan tidak dapat dipahami lebih jauh tanpa menjelaskan bagaimana pemimpin dan pengikutnya saling mempengaruhi satu sama lain sepanjang waktu.

Kondisinya kemudian ternyata jauh dari analisis level ini. Bahwa pimpinan tidak lagi mebangun kondisi dimana antara individu dengan pimpinan sebagai individu saling mempengaruhi. Yang lahir justru bukan share idea, or share action, tetapilebih kepada “doktrinitas” atas keinginan yang kita sebuat pemimpin. Ciri ini bukankah lebih menonjol dari sifat Tirani, bahwa yang lahir adalah pemaksaan kehendak atas otoritas yang dimilikinya. Bahwa pemimpin sebagai pemegang otoritas terttinggi tidak mewajibkan dirinya menjadi sangat diktator untuk memutuskan sesuatu.

Perhelatan demokrasi yang selalu digelar selama ini telah diangggap sebagai sebuah proses untuk membangun demokratisasi yang diharpkan melahirkan pemimpin demokratis. Pemimpin yang tidak menganut faham kelompok, faham massa, faham sektarianisme. Bahwa akhir dari perhelatan pemilu yang melahirkan seorang pemimpin daerah, pemimpin negara, bahkan termasuk melahirkan pemimpin di tingkat level pemerintahan terendah sekalipun seharusnya berakhir pada bangunan pemahaman pikiran dan tindakan untuk semua masyarakat. Tidak lagi ada perbedaan antara koalisi atau bukan koalisi. Pemimpin yang dilahirkan pesta demokrasi kita bukan hanya miliki kelompok pemenang, tetapi menjadi miliki kita bersama.

Berhentilah. Jadilah pemimpin bukan penguasa.

Leave a Reply