Benarkan Minal Aidzin Wal-Faidzin Ucapan Salah Kaprah

Featured

Ramadhan telah tiba di penghujung waktu pada tahun ini. Menyisakan beragam cobaan dan tantangan yang tidak ringan. Bahwa Ramadhan seharusnya menajdi bulan dimana salah satu kompotensi yang diuji adalah kompetensi kesabaran kejujuran dan keihlasan. Ramadhan telah mendorong secara sempurna bagi setiap orang-orang yang beriman untuk meningkatkan kualitas sesabaran, kejujuran dan keihlasannya. Lalu bagaimanakah menyambut suka Cita 1 Syawal 1437 H. Dalam kebiasaan umat Islam Indoensia dan umat Islam seluruh dunia kebiasaan itu diungkapkan dalam bentuk bersaalaman sebagai pertanda saling memafkan kesalahanm disertai dengan ucapan Minal Aidzin Wal-Faidzin, Mohon Maaf Lahir Bathin Taqabbalallahu Minna Wa Minkum Shiyamana wa shiyamakum.

Rangkaian ucapan itu masih saja menjadi pertentangan. Beberapa opini terkait dengan hal tersebut tidak membenarkan menyebutkannya. Beberapa alasan yang dikemukakan dinataranya karena dianggap ucapan tersebut tidak pernah di ucapkan oleh Nabi.Dalam hemat saya sebenarnya tidak perlu dipetentangkan, toh hal tersebut tidak masuh dalam kategori ibadah khusus. Jika seseorang merasa nyaman memberi danmemafkan danmemabngunpersaudaraan yang tinggi dan tanpa mengurangi esensi dari ibadah Ramdhan dan ibadah Iedul Fitri maka hal tersebut tak perlu dipersoalkan panjang lebar.

Seperti ringkasan tulisan Muhammad Abduh Tuasikal di Artikel Muslim.Or.Id menyebutkan beberapa yang dianggap kesalahan seperti

Mohon Maaf Lahir Batin

Penulis mempersepsikan bahwa “Seolah-olah saat Idul Fithri hanya khusus dengan ucapan semacam itu. Ini sungguh salah kaprah karena waktu memafkan bisa kapan saja.

Minal ‘Aidin wal Faizin

Satu ucapan lagi yang keliru saat Idul Fithri, yakni ucapan “Minal ‘Aidin wal Faizin”. Ucapan ini dari segi makna kurang bagus. Arti dari ucapan tersebut adalah “Kita kembali dan meraih kemenangan”. Ini suatu kalimat yang rancu. Kita mau kembali ke mana? Apa pada ketaatan atau maksiat? Jika mengandung dua makna seperti ini hendaknya ditinggalkan.

Menurut hemat saya bahwa penulis saja yang keliru dan sangat salah kaprah terhadap kalimat tersebut. Mungki hanya mencoba mendeskripsikan secara parsial mennurut pemahamannya saja. Penulis justru salah kaprah memaknainya. Bukankan setiap kita hanya dapat dipertemukan secara langsung dengan banyak saudara seiman kita pada saat hari Raya iedul fitri, sehingga momentum tersebut dapat dimanfaatkan untuk saling memaafkan.

Memaknai kalimat kita kembali dan meraih kemenangan. Dua kalimat ini yang tidak dipahami betul penulis. Kata kita kembali, dalam filosofinya bahwa setiap orang merasa selama sebelas bulan tidak mampu secara maksimal beribadah seperti layaknya di bulan ramdhan, sunnahnya kurang, puasanya kurang, dan seterusnya karena tidak sanggup melawan nafsu. Bukankan Nabiullah Muhammad SAW menyatakan bahwa perang yang paling besaar yang dihadapi umat manusia adalah perang melawan hawa nafsu. Sehingga Ramadhan dianggap sebagai bulan dengan sebuah perjuangan untuk melawan hawa nafsu sehingga menjadi pemenang.

Dalam konteks ini sesungguhnya penulis salah kaprah jika menganggap bahwa dengan ucapan tersebut berarti orang tidak perlu beribadah diluar bulan ramadhan. Ini kekeliruan besar dan sangat menyesatkan karena penulis tidak mengetahui dasar filosofis lahirnya ucapan tersebut. Saya sedikit menitipkan satu kaidah fiqh bahwa “segala sesuatunya boleh dilakukan sepanjang tidak larangan yang jelas baik dalam al-Qur’an dan Hadits”. Jika ucapan itu ada larangan dalam al-Qur’an dan Hadits maka ucapan tersebut sepertinya bukan salah kaprah.

 

Leave a Reply