Ramadhan dan pudarnya tradisi Islam

Ramadhan dan tradisi sangat lekat, seperti lekatnya Agama Islam dengan tradisi. Sejarah panjang perjalan Islam dari Jazirah Arab hingga menggapai persia hingga kesemenajung Malaya sarat dengan perpaduan antara tradisi masyarakat dengan kekuatan inti dari penyebaran ajaran Islam. Adalah Dato Ri Bandang Dato Ri Tiro dan Dato Sulaiman menjadi punggawa ulama yang akhirnya membawa Islam ke tanah Sulawesi. Tercatat Makassar Gowa, dan Ajatappareng sebagai daerah yang menjadi pusat penyebaran Islam. Dalam prosesnya Akulturasi kebudayaan atau tradisi masyarakat menjadi bagian tidak terpisahkan dari hasil dan proses penyebaran Islam. Budaya lokal dihidupkan dengan nuansa Islam, yang menjadikan ajaran agama begitu lekat dengan masyarakat.

Ketika prosesnya semakin mendalam, tradisi yang tidak berciri “Tauhid” digantikan dengan proses yang memiliki nuansa Islam sebagai usaha untuk menjadikan pemeluk Agama meninggalkan hal-hal yang menyebabkan cederanya sistem keyakinan yang dianut dalam Islam. Lahirlah Barzanji, Simbolisasi Telur Berwarna pada peringatan Maulid, Jepe’ (bubur) pada hari Asyura, sebagai bentuk pengalihan tradisi lama ke pemebntukan pengamalan ajaran Islam. Pada akhirnya keseluruhan sendi kehidupan masyarakat menyatu dalam nnuansa Islam dan tradisi setempat. Setiap peristiwa, kebiasaan, faham sedemikian rupa dibentuk dengan mendasarkan pada filosofi ajaran Islam. Ramadhan dengan bacaan al-qur’an di Surau dan Masjid, Tahlilan, Burasa dan kue-kue khas pada saat buaka puasa dan lebaran, saling berkunjung satu sama lain, bertukar kue tajil, bersalaman saling memaafkan, kemudian menjadi bagian dari adat dan kebiasaan masyarakat yang turun temurun berkembang hingga sekarang.

Sayangnya, memasuki era tahun 2000-an dengan segala macam bentuk perkembangan kebudayaan yang merupakan hasil akulturasi dengan budaya pop, mengindikasi arah perkembangan kebudayaan dan peradaban baru yang tanpa bentuk. Pengikisan nilai-nilai (core value) dari nuansa Islam mulai terjadi dengan memudarnya beberapa dari sekian banyak icon tradisi Islam yang begitu lekat dengan masyrakat.

Lahir beragam kebiasaan baru yang tidak lagi menjunjung tinggi etika dan nilai Islam. Paling tidak menggunakan kaidah maslahat. Ramadhan dengan Takbir khusyu di Surau, Mushollah, Masjid telah tergantikan dengan Takbir Keliling mengerahkan Massa besar-besaran dengan dalih Syiar Islam, bunyi pentungan menyambut 1 Syawal terganti dengan bunyi Mercon dan kembang Api, dan Bahkan bersilaturrahim antar rumah bersama dengan sanak famili sudah terganti dengan mengunjungi Mall, Nonton bareng di Bioskop.

Kondisi ini tak terhindarkan lagi, dan semakin mengakar dalam masyarakat kita. Ada ketidak berdayaan dari generasi lama mempertahankan tradisi Islam akibar sergapan tradisi pop. Penyebaran informasi bahkan terkesan semakin melemahkan nilai-nilai Islam akan tradisi masyarakat kita. Menyalahkan ucapan-ucapan selamat pada hari raya, juga menjadi bentuk pelemahan core value dari Islam. Kondisi ini tentu tdak bisa dibiarkan begitu saja. Perlu ada usaha untuk tetap tegas mengontrol arah perubahan tradisi masyarakat agar tidak lari dari nuansa Islam.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1437 H

TAqabbalallahu Minna wa Minkum

 

Leave a Reply