Boikot Produk Non Muslim: Bolehkah?

Kurma-Zionis-16-Juni-2015-Friends-of-Al-Aqsha-600x600Diskusi kecil tentang produk barang dan jasa. Sebegitu menariknya sehingga menjadi dasar setelah buka puasa hari ini mencoba menelusuri beberapa hal terkait dengan boleh tidaknya melakukan boikot terhadap produk non muslim. Sungguh-sungguh dalam nalarku hal ini tidak dibenarkan. Proses interaksi antara Islam non Islam sungguh sebagai sebuah interaksi yang didalamnya mengharuskan kedua belah pihak saling menjaga hal-hal sepanjang tidak merusak citra dan esensi keberagamaan. “Tidak merusak Tauhid” bagi orang Islam. Demikian pikirku.

Hal tersebut kemudian terbukti bahwa masih sekitar 75% produk yang kugunakan masih merupakan produk barang dan jasa dari kaum non muslim. Produk kurma Seperti dilansir, inminds.co.uk, keuntungan Israel dari penjualan kurma memang sangat besar. Untuk tahun 2011 saja, Israel menangguk sedikitnya $ 265.000.000. Ratusan juta dolar keuntungan tersebut masuk ke kantong ekonomi Israel dan kiat mengukuhkan hegemoni di atas tanah Palestina

Ironisnya, hingga kini hampir 70% persen dari produksi pertanian mereka dilakukan di tanah milik rakyat Palestina. Mereka memaksa masuk tanah-tanah ilegal demi mempertahankan komoditi mereka dan memenuhi permintaan kurma selama bulan ramadhan. Tiga brand kurma mereka adalah Carmel, Jordan Plains, Jordan Valley.

Persolannnya kebutuhan Kurma selama Ramadhan sangat tinggi. Dan geliat Bisnis bidang satu ini di sambut baik oleh mereka yang non Muslim untuk memenuhi kebutuhan Umat Islam. Mereka termasuk Inggris menjadi Pengekspor kurma terbesar di bulan Ramadan di Dunia Islam. Jika saja kebutuhan kurma dengan kualitas yang baik dapat dipenuhi oleh pengusaha Muslim, maka istilah boikot tidak perlu di berlakukan. Cukup dengan mendorong kaum muslimin untuk mengkomsumsi produk dari kaum Muslimin.

BAgaimana Hukumnya. Menurut fatwa ulama bahwa Seorang muslim dilarang untuk loyal (wala’) pada orang kafir, di antara bentuknya adalah menyerupai mereka (tasyabbuh) dalam hal yang menjadi ciri khas mereka. Namun apakah boleh menggunakan produk orang kafir? Jawabannya adalah boleh-boleh saja. Akan tetapi, masalah selanjutnya adalah bolehkah membeli produk orang kafir sedangkan masih ada produk kaum muslimin?Jawabannya adalah dalam dua rincian berikut:
[Pertama] Jika seorang muslim berpindah ke penjual kafir tanpa ada sebab. Di antara sebabnya misalnya penjual muslim tersebut melakukan penipuan, menetapkan harga yang terlalu tinggi atau barang yang dijual rusak/cacat. Jika itu terjadi dan akhirnya dia lebih mengutamakan orang kafir daripada muslim, maka ini hukumnya haram.
[Kedua] Adapun jika di sana ada faktor pendorong semacam penjual muslim yang sering melakukan penipuan, harga barang yang terlalu tinggi atau barang yang dijual sering ditemukan cacat, maka wajib bagi seorang muslim menasehati sikap saudaranya yang melakukan semacam itu yaitu memerintahkan agar saudaranya tersebut meninggalkan hal-hal jelek tadi. Jika saudaranya menerima nasehat, alhamdulillah. Namun jika tidak dan dia malah berpaling untuk membeli barang pada orang lain bahkan pada orang kafir, maka pada saat itu dibolehkan mengambil manfaat dengan bermua’amalah dengan mereka. (Sumber: https://rumaysho.com/997-fatwa-ulama-tentang-hukum-boikot-produk-yahudi.html)

Wallahuallam bisshowwab

Leave a Reply