Bukan Roman Picisan

Baha demikian nama disandangnya sejak lama. Dia juga tak paham benar sejak kapan nama itu populer melekat sebagai nama panggilan . Meski beberapa menyematkan embel embel om, atau kakak didepannya. Tak pernah sekalipun dia keberatan dipanggil demikian. Senyumnya saja kadang jadi jawaban tepatnya.

Baha adalah lelaki 40 tahun. Seperti kebanyakan orang Baha memiliki, tubuh kekar dengan brewok tipis diwajahnya membuatnya kadangkala seperti lelaki seram. Itupun jika Baha telat lagi merapikannya di Tukang Cukur langganannya. Biasanya bercukur plontos dan kumis jenggotnya diratakan dengan ukuran setengah centi. Baha lelaki dengan sejuta pengalaman, pernah merantau dan menjadi pegawai perusahaan ternama dengan penghasilan 4 kali diatas UMR. 

Baha kemudian beralih profesi menjadi seorang pengamat dan menjadi populer karena menjadi staf ahli di pemerintahan. Baha cukup populer dikalangan politisi yang kadang kala disorot Baha melalui ucapan dan tulisan tulisannya. Yah. Itulah baha yang kesehriannya juga tetap menjaga etikanya dengan sangat rapi. Tak salah memang jika Baha banyak disukai orang.
“Saya sebenarnya sedang galau seperti kata anak mudayya”. Demikian jwabannya ketika kutanyakan perihal hubungannya dengan Besse. Sejak Besse melahirkan, jarang lagi saya melihat Baha menemani Besse. Tak sama ketika mengecek kehamilan Besse, membantu Besse menjemur pakaian, hingga menjalankan aktivitas dapur juga dilakukannya. Memang sempat saya membathin. Kala itu saat Besse melahirkan, Baha biasa biasa saja. “Ah Baha tidak menjadi suami dan ayah Bagi Besse dan anaknya”

Tak seperti kebanyakan lelaki memang, menunggu kelahiran berarti secara psikologis sedang berada pada tekanan tingkat tinggi. Tapi Baha biasa saja, dengan senyum khasnya menjawab pertanyaan kerabatnya ketika ditanyakan perihal Besse. Saat aqiqah dan pemberian nama bagi anak yang dilahirkan Besse sekalipun Baha juga tak serepot lelaki kebanyakan. Mengurus Kambing Aqiqah, persiapan acara dari tenda hingga urusan tamu juga tak dilakukannya. Paling miris lagi Baha tak pernah sekalipun menggendong atau menyentuh anak yang dilahirkan Besse. Apalagi mengazankan dan memberikan nama terbaik bagi anak Besse.

“Kenapa Galau Baha” tanyakku dengan nada sedikit melucu. 

Saya lelaki, saya faham 9 bulan Besse menanggung beban. Dan itu tidak ringan. Ketika ngidam, saya seperti ingin menggantikannya. Air matanya kadangkala seperti air bah bagiku yang menghempaskanku ke bebatuan. Apalagi saat tak satupun makanan mampu dinikmatinya, seperti rasanya saya sedang berpuasa seminggu penuh. Atau ketika perutnya Besse sakit atau cabang bayinya mulai membesar dan mendesak ke paru parunya hingga Besse sesak nafas. Say yang gemetaran. Say was was, tidak bisa duduk tenang, berbaring apalagi tidur dan bermimpi. Saya tidak bisa.

Kadangkala saya jatuh sakit karenanya, meski saya harus menyembunyikannya agar dia tetap tegar. Ketika kerjaan Besse menumpuk, selalu saya membantunya meski banyak dari pekerjaan itu saya tak paham. Bila suatu ketika Besse marah meski pada hal hal sepele, saya hanya mengamininya. Saya tak membantahnya dan bahkan amarahnya sudah kujadikan seperti rayuan kekasih pada pasangannya. Beberapa kali dari sejak kehamilannya hingga melahirkan, Besse kadang tak berbicara kepadaku, bahkan kadangkala telepon atau chatingankupun diblokirnya. Tapi kuanggap itu karena kehamilannya, bukankah Besse selama ini tidak pernah bersikap seperti itu.

Besse itu tak sama wanita kebanyakan. Dia memang sangat pemarah, mudah terpancing emosinya meski pada hal hl yang tidak pasti, tetapi saya sekali lagi mampu menerimanya. Saya pernah mengatakan kepadanya bahwa saya mencintainya bukan semata karena kelebihannya. Bukan karena dia penuh perhatian, penuh kasih sayang. Tapi saya mencintainya lengkap dengan kekurangannya, amarahnya, ketersunggungannya dan rasa cemburunya. Saking baiknya Besse, tak banyak waktu saat makan dia tidak menyuapiku, meski hanya satu dua suap saja. Tapi itu sudah menggetarkan seluruh emosi kelaki lakianku.

Kulihat Baha menarik nafasnya dalam, keringatnya mengucur deras yang tak disekanya dengan tissue atau sapu tangan. Dibirkannya tubuhnya basah krena keringat, seperti matanya yang berkaca kaca menahan kesedihan.

Besse itu hidupku. Dia pernah melengkapi banyak kebahagian di hidupku. Seperti lirik lagu “Tum Hi Ho” meski saya yakin Besse lebih sempurna dari itu. Pernah sekali waktu saya katakan bahwa saya hidup untuk menemuinya. Saat itu Besse mengatakan bahwa dia hidup hanya untuk menunggu kedatanganku menemuinya. Saya faham betul kalimat itu dikutipnya dari lirik lagu, tapi saya yakin lirik itulah yang mewakili perasaannya. Jika Besse tak berbicara kepadaku, atau menjawab pertanyaanku dengan senyum getirnya bisa membuatku jatuh sakit. 

Pernah suatu ketika aku sakit. Sebulan rasanya saya tak menjumpainya. Itu bukan karena saya yang meninggalkannya, tapi Besse yang sedang marah lalu pergi. Tapi setelah dia tahu saya sakit, dia kembali dan memelukku sangat erat, hingga saya sesak nafas karena haru. Ditungguinya aku di bibir ranjang hingga Besse yakin kondisiku telah membaik. “Saya juga tak bisa meninggalkanmu” Maafkan saya!” Selalu jawaban itu yang membuatku kuat.

“Maksud kamu, Besse sekarang pergi Baha?” Tanyaku. Baha tiba tiba menangis, meski hanya terisak, disertai batuk Baha menganggukkan kepala.

“Marahki barangkali”. Semntat Belum pernah saya menggendong anaknya Besse, belum pernah kuusap-usap kepalanya, belumpa pernah dengarki tangisannya. Padahal saya rindu pada Besse dan anaknya. Tapi dia jauh. Jauh sekali dia pergi hingga saya kehilangan jejaknya. Hilang semua semangat hidupku. Besse dan anaknya cita cita terbesarku. Tapi saya bisa apa. Besse seperti tak peduli denganku. Besse biasanya sedang cemburu jika bersikap begini. Saya telepon tidak diangkatnya, di sms apalagi, selalu tak dibalasnya. 

“Jadi sekarang Baha sikapnya bagaimana?” Tanyaku lagi. Kulihat keningnya berkerut. Tangannya sedikit gemetaran. Katanya ini karena asam uratnya kambuh dan itu di tangan kanannya. Kusarankan mengkomsumsi obat, tapi ditolaknya dengan beragam alasan. 

Saya tidak tau mesti bagaimana. Dulu saya sering minta tolong ke Juma’ mendatangi Besse. Tapi kata Juma’, Besse tak ingin ditemui. Juma’ juga tak melihat anaknya. Juma’ hanya menjumpai rumah kosong meski disitu mobil Besse masih terparkir rapi, walau telah berdebu akibat kemarau panjang. Saya jadi semakin bingung. Sedih jangan lagi ditanya. Sikap Besse sungguh sungguh menyakitiku dengan amat sangat, tapi tidak membuat perasaanku sama Besse berubah. Tetap sama ketika saya pertama kali bertemu, sama saat kutemani ke mall, kepasar, kekaraoke, kelapangan olahraga. Sikap saya masih sama ketika menenangkannya saat marah, menemaninya mencuci, menjemur pakian, atau saat sesekali kugoda kala menyelesaikan bengkalai pekerjaannya. Sungguh masih penuh dengan perasaan cinta. Perasaan takut kehilangan. 

Baha menunddukkan kepala menyembunyikan air matanya yang deras. Baha sedih. Sangat sedih hingga tak kuasa disembunyikannya. Saya hanya menepuk bahunya pelan, meski tak diresponnya. Baha seperti kehilangan segalanya, mengalahkan rasa kehilangan pejabat dari jabatannya, sedih melebihi kesedihan lelaki yang kehilangan pekerjaanya. 

“Saya tetap menunggu, toh saya bertahan hidup karena ingin menemuinya” tiba tiba Baha mengangkat bahu, mengepalkan tangannya seperti menyampaikan pesan padaku bahwa Dia “Baha” adalah lelaki dengan semangat dan cita cita yang tak mudah dipatahkan. Bahwa Baha adalah lelaki dengan tanggungjawab penuh menunggu Besse dan Anaknya dalam pelukannya. 

Saya tertegun, Baha pamit. Maafkan saya Baha, saya tak kuasa membantumu.
#romansa

Leave a Reply