Nama Saya Firman, bukan Buldog

Firman
Nama Saya Firman bubkan Buldog

Kantuk yang mendesak untuk segera di Amini dengan kasur dan bantal guling empuk hilang seketika. Di seputaran jalan gladiol yang gelap tak berlampu jalan menghentikanku sejenak. Seorang bocah menyita perhatian saya yang sedang duduk di sudut parkir sebuah Kafe yang terbilang mewah. Bocah ini menghentikan saya untuk segera pulang kerumah berkumpul dengan anak dan isteri. Mesin motor kumatikan, kutatap anak ini hingga ia salah tingkah. 

Saya tetap disadel Motor. Melihat bocah ini mengingatkanku 38 tahun lalu. Kala itu saya masih duduk di kelas 2 MI Matajang yang dulu MIPN Camba. “Beginika kapang dulu saya eee”. Tapi bedalah. Bantahku segera. Dulu saya tak beralas kaki, tak bercelana panjang. “Mungkin nasibku yang sama” gumamku. Bocah dengan pakaian lusuh, celana panjang robek di bagian lutut, sedang memangku sebuah kotak dari plastik berisi jualan. Disampingnya dua botol Bekas Air mineral berisi cairan berwarna orange diletakkannya berdempet. Saya menghampirinya.

“Firman namaku pak. Biasa juga orang panggilka Buldog”. Jawabnya ketika kutanyakan namanya. Dia hanya tertawa-tawa kecil karena tak paham kenapa sampai dipanggil Buldog. Bocah ini ternyata siswa SD kelas IV. Sebagai anak ke-4 dari tujuh bersaudara, pastilah belum paham benar tentang tanggung jawab, tetapi telah mampu mewujudkan dan menjalankannya. Konsekuensinya sungguh berat untuk anak seusianya. Bagaiman tidak, saat anak seusianya berleha-leha dengan gadget dan smartphone, Firman justru menghabiskan hampir dari separuh waktunya digunakan untuk membantu orang tuanya berjualan Jalangkote. Firman tak seperti kebanyakan bocah seumurnya. Firman tak punya waktu untuk main games online, apalagi meminta jatah kuota internet dari orangtuanya. Bahkan masih menjadi mimpi terindahnya, menikmati kuliner bersama keluarga selepas jogging di taman kota pada hari libur.

Sebagai anak sekolah, Firman setiap hari, selepas mengerjakan PR sekolah yang diperolehnya pada pagi hari, tersita waktu belajarnya untuk menjual habis Jalangkote buatan ibunya sebanyak 180 biji. Dari sore hari jam 5.00 dia mulai menjajakan jualannya di radius 2km persegi antara Pasar Tua Hingga area PTB (Pantai Tak Berombak) dan Perumnas Tumalia Maros. Teriakan “Jaaaaalaaaankoteeeee” dengan nada khasnya memecah keheningan. Uang seribu rupiah dikumpulkannya dari harga jalankote perbiji. Melariskan Jalangkote sebanyak itu tidaklah mudah. Bahkan malam ini saat jam tangan saya menunukkan pukul 11.34 malam, Firman baru melariskan 108 biji. Berarti masih tersisa 72 biji yang harus segera terjual habis, sementara 26 menit lagi jam 00.00.

“Langganan saya tidak ada disini”. Senyum irman tanpa ekspresi. Tak ada lelah apalagi kesedihan di gurat wajahnya. Firman tetap tersenyum meskipun kepalanya sedikit tertunduk. “Firman punya langganan”. Seorang perwira Polisi sering membeli Jualan jalankote saya sebesar Rp. 50.000 yang membantunya untuk tak berlama lama hingga tengah malam menjajakan kuenya. Tapi kata firman Komandan demikian dia menyebutnya, tidak ada. “Dak adaki main Komandan” katanya datar kental dengan logat bugis Marosnya.

Firman memperbaiki duduknya. Tampak sedikit risih waktu saya duduk didekatnya. Saya menawarkannya untuk foto bersama. Anak yang bercita cita jadi dokter ini tak paham meraih rangking berapa disekolah. Yang pasti keinginannya menjadi dokter hanya karena dokter dianggapnya orang baik, meskipun dia sangat menyukai guru kelasnya di sekolah.

15 menit kurang lebih saya berbincang, ternyata Firman punya impian. Firman ingin bersalaman dengan Bupati Maros. Pak Hatta katanya. Firman juga tak punya alasan apa apa, hanya ingin bersalaman.

Malam semakin larut, Firman belum juga melariskan 72 biji jalangkote yang tersisa. Sejenak diperbaiki posisi duduknya sambil menunggu teman kakaknya, langganannya atau tetangganya yang memberinya tumpangan pulang malam ini.

Saya menawarkan jasa, tapi ditampiknya dengan memilih jalan kaki, meski harus menembus gelapnya gladiol tanpa rasa takut sedikitpun

Saya menghela nafas sejenak. Saya belajar lebih banyak malam ini dari Firman. Belajar tentang tanggung jawab, belajar betapa hidup itu butuh perjuangan, kesabaran dan cita-cita. Bahwa tak satupun yang mampu menetukan masa depan seseorang kecuali kita dengan Tuhan

Leave a Reply