Kepergianmu

jendela menguak lebar tak kau hiraumemilih pintu yang terbuka separuhmemaksa badanmu ringkih melewatinya “engkau deretkan senyum manis beserta bulir-bulir air mata” meleleh luluh lantakkan garang hatimelihatmu membariskan punggung tepat di kedua bola matakuyang nanar menatapmu hilang