Warkop, Rokok, Hingga Infeksi Saluran Pernapasan

Senin yang sedikit menggelitik ketika perlahan matahari muncul dengan maksud untuk mengusir malam. Tapi ternyata hanya sepersekian menit tiba-tiba dengan powarkopngah sang awan hitam tebal menutup cahayanya. Wah begitu banyak yang tak menikmati mentari hari ini. Seperti seekor anak ayam yang lari masuk ke sayap induknya, Jemuran istriku yang tiba-tiba harus di bereskan lagi, atau saya sendiri yang ragu mandi atau tidak. Belum lepas rupanya pikiran-pikiran tentang itu semua, Hujan tiba-tiba seperti tumpah saja ke permukaan tanah. Matahari sebenarnya masih saja memaksa menyelinap disela-sela tebal awan pencipta hujan itu. Tapi seperti tak kuasa melawan keinginan hujan untuk berkuasa hari ini. Di hari senin, belum lama lepas Masa tahun 2013.

Aku sepertinya tak mau kalah dengan hujang. Dengan setengah tergopoh-gopoh aku berlari lari kecil kewarkop samping rumahku. Tak peduli pada bagian lain dari badanku harus kuyup karena hujan. Tapi aku tak mau kalah dengan mentari. Menyelinap dibalik awan, seperti aku kurang lebih mendobrak hujan hanya untuk segelas kecil kopi susu kesukaanku dengan racikan khusus khas Bugis. Tak lama kemudian aku sudah duduk dengan nyaman mengisap sebatang rokok yang kupilin sendiri. Meskipun sebenarnya dokter telah melarangku karena aku sedang menderita Infeksi saluran pernafasan. Dokter juga kadang perlu di patuhi, meskipun sebenarnya kepatuhan itu bukan karena kesadaran akan pentingnya kesehatan tapi tak lebih dari takutnya aku pada “ancaman positif” yang disampaikannya. Tidak boleh makan gorengan, tidak boleh minum kopi karena infeksinya makin akut jika terkontaminasi oleh kaffein, apalagi rokok disebutnya penyebab utama infeksi saluran pernapasan saya. “Lihat saja teguran pemerintah bagi perokok dengan semboyan baru yang jujur juga membuatku kadang bergidik”.

Warkop sepertinya Senin ini tak terganggu oleh derasnya hujan. Hujan mengguyur bumi tidak dengan amarah, meskipun terasa sangat garang menghujam bumi. Tapi sebenarnya lebih garak asap rokok yang kuhisap dalam yang kuselingi dengan caffein ditenggorokanku yang sebenarnya tidak dalam kondisi baik untuk memperoleh ransangan asap dan caffein. Mungkin saja (dalam hati dan pikiranku sekarang) kondisi saluran pernafasanku sama dengan permukaan tanah yang tidak siap menerima guyuran hujan degan debit yang tinggi. Bagaimana tidak permukaan tanah kita tidak lagi memeiliki daya serap yang tinggi agar tidak terjadi genangan air dimana-mana yang pada akhirnya kusebut dengan “Banjir”. Mungkin karena prilaku kita sendri yang tidak lagi menelaah dan mematuhi anjuran, ancaman, dan bahkan teguran-teguran tentang pentingnya menjaga lingkungan agar tidak beresiko banjir.

Sejenak membaca inbox dari teman di sosmed yang sangat ditunggu karena salam dibalas beberapa hari setelah dikirim, tanpa sadar jumlah pengunjung warkop mulai ramai. Saya lalu disalami beberapa orang yang kukenal. Berbincang sejenak lalu mereka duduk di meja pilihan masing masing. Beberapa menit kemudian saya baru sadar jika ternyata semua meja telah penuh dan anehnya ternyata saya sendiri duduk tanpa teman satu meja denganku. Ah… Ini mungkin karena saya sedari tadi sibuk mengutak atik andro murahan yang selalu saya pakai.

Sambil menikmati pikiran-pikiranku sendiri tiba-tiba saya dikejutkan oleh suara seorang lelaki yang menyapaku menyalamiku dengan salam komando lalu duduk didekatku sambil menepuk nepuk pundakku. “Apa dibikin?” Tanyanya singkat.
“Biasa pak… Maen facebookan” jawabku sambil meletakkan andromax milikku.
Kamipun terlibat perbincangan dari yang santai temanya sampai pada hal hal serius. Dan ternyata perbincangan kamipun sampai membahas tentang politik, tentang pemilu, yang kemudian akhirnya saya tahu jika ternyata dia seorang kandidat alias calon anggota legislatif.

“Pantas saja beliau sangat lihat membuka perbincangan” gumamku. Muncul rasa kagum atas pikiran pikirannya yang kucerna kemudian setelah dia memberitahukan siapa dirinya. Selang beberpa saat diapun pamit meninggalkan saya. Dan tak lupa dia ucapkan terima kasih sambil meletakkan sebungkus rokok A volution sampoerna merah didepanku. “Ma kasih banyak pak … Kopinya sudah saya bayar” katanya singkat sambil berlalu meninggalkan saya yang hanya senyum senyum tak punya arti. Jika saja setiap diri kita sadar, bahwa kita dengan mereka sama saja, tidak ingin memperoleh perlakuan buruk dari orang lain, maka pasti kitapun tak akan pernah berbuat buruk kepada orang lain. Dan setiap orang pasti punya kuasa untuk melakukan kebaikan dengan atau tanpa pamrih, seharusnya seperti itu pula kita berlaku bagi orang lain.

ah… Warkop…. kopi dan seluruh pesonanya. Disitulah aku hidup dan menikmatinya.

 

 

Leave a Reply