Rindu menebal: Muhammad saw

muhammadPagi dan guyuran hujan kali dengan atau tanpa kopi segelas ataupun seteguk tak juga membuat hari yang akan kulalui menjadi tak bermakna sama sekali. Hari ini ketika kesadaran manusiawi terdalam sedang diuji. Hari ini ketika sejarah panjang hidup manusia di terangkan kembali dari kegelapan. Hari ini menjadi saat manusia ditunjukkan bagaimana sesungguhnya menjalani dan mengelola kehidupannya secara lebih manusia. Hari Ketika Allah swt melahirkan penghulu manusia terrakhir untuk menjadi suluh bagi manusia sekaligus alam semesta. saat inilah kelahiran sang manusia pemberi cahaya kehidupan yang paing lengkap dan paling paripurna.

Seketika hati terharu. Ada rindu menebal dalam hati. Ada asa ingin menyentuhmu. Atau bersalaman denganmu atau mungkin sekedar mencium tanganmu. Ada asa ingin melihat senyummu, atau mungkin mendengar bisikan suaramu menyampaikan kebenaran-kebenaran dan menegur-kesalahanku. Atau ingin berada dan duduk didepanmu, ketika engkau berdiri lalu menyuarakan ajaran-ajaran agama yang engkau bawa. Hati ini telah buta, hingga ingin rasanya engkau mensucikannya dengan do’a yang pasti terijabah oleh yang Maha Kuasa. Aku rindu yaa Allah, sungguh rindu ingin bertemu dengannya sang manusia pembawa kebenaran abadi. Pembawa hidayah hidup yang maha luas dan maha Indah. yang memiliki tuntunan sempurna dalam mengarungi gaya hidup.

Lihatlah kami ini yang telah bertasbih atas Nama Tuhanmu dan atas nama engkau. Tapi tak juga kami mengikuti tuntunanmu. Menisbahkan hidup untuk akhirat dan menyandarkannya kepada Tuhan sang Maha Pencipta seperti yang engkau ingin. Bagaimana mungkin menghadirkanmu kini. Tidak lagi para pewarismu menyuluh kami dengan cara seperti apa yang engkau ingin. Seperti mereka menyampaikannya bukan untuk menerangi kami akan ajaranmu, tapi tak lebih dari sekedar menunaikan tugas-tugas pribadinya, bukan lagi tugas mulia sebagai pewarismu. Teringat ketika engkau menyampaikan kebenaran wahyu dengan berkalung usus binatang dilehermu yang dilingkarkan oleh para kaum kafir kala itu. Tetapi dengan tersenyum engkau mendoakan mereka agar Allah membukakan hati mereka pada kebenaran Tuhanmu. Tapi sekarang mana mereka mau melakukan hal sama denganmu ya Nabiullah yang paling teguh kesabarannya. Ketika engkau harus menghidupi dirimu dan keluargamu dengan berpayah-payah berdagang ke Syam agar dapat engkau gunakan untuk menyebarkan siar agama. Tapi mengapa para pewarismu justru menjadiakan syiar agama untuk menghidupi diri dan keluarganya.

Yaa Nabi salaam alaika
yaa Rasul salaam alaika
yaa Habiib salam alaika

sholawattullah alaika
Asyraqol badru alainaa
fakhtafat minhul buduuru
mitsla husnik maa ro-ainaa
qoththu yaa wajhas suruuri

Hari ini tanpa segelas kopi dan hujan… seperti menjadi musik bagi lantunan sholawat bagimu dan bagi para keluarga dan sahabat-sahabatmu dan bagi para pengikutmu. Hari ini tanpa kopi, tanpa Songkolo, tanpa telur rias. Hari ini ada rindu yang tebal padamu.

Leave a Reply